Samsung Group bukan sekadar nama merek pada ponsel pintar atau televisi di rumah kita; ia adalah sebuah fenomena ekonomi yang menyumbang hampir seperlima dari PDB Korea Selatan. Namun, di balik dominasi teknologinya, terdapat narasi kompleks tentang ambisi, transformasi, dan yang paling penting: tata kelola keluarga (family governance). Keberhasilan Samsung melewati pergantian generasi tanpa terpecah belah adalah studi kasus penting tentang bagaimana sebuah “Konstitusi Keluarga” yang tidak tertulis namun dipatuhi dapat menyelamatkan kekaisaran bisnis dari kehancuran internal.
Akar Sejarah: Transformasi dari Ikan Kering ke Semikonduktor
Perjalanan Samsung dimulai pada 1 Maret 1938, ketika Lee Byung-chul mendirikan sebuah perusahaan perdagangan kecil di Daegu dengan modal hanya 30.000 won. Pada masa itu, Samsung (yang berarti “tiga bintang”) berfokus pada ekspor ikan kering, sayuran, dan mi yang diproduksi secara lokal ke wilayah Manchuria dan Beijing. Tidak ada yang membayangkan bahwa toko kelontong ini akan menjadi cikal bakal raksasa teknologi dunia.
Setelah Perang Korea, Lee Byung-chul melakukan diversifikasi besar-besaran sebagai bagian dari upaya pembangunan kembali nasional. Ia mendirikan Cheil Sugar (pabrik gula terbesar di Korea saat itu) dan Cheil Industries (pabrik wol). Diversifikasi ini mencerminkan filosofi We-Guk-Heon-Shin (berbakti kepada negara melalui bisnis).
Langkah krusial terjadi pada tahun 1969, ketika Samsung Electric Industries didirikan. Produk pertamanya adalah televisi hitam-putih yang diproduksi melalui kerja sama teknologi dengan Sanyo, Jepang. Meski memulai sebagai pengikut (follower) teknologi, Samsung memiliki visi jangka panjang yang agresif. Di bawah kepemimpinan Lee Byung-chul, perusahaan ini berani mengambil risiko besar dengan memasuki industri semikonduktor pada tahun 1974, sebuah keputusan yang awalnya dianggap gila oleh banyak pihak namun terbukti menjadi mesin uang utama Samsung hingga hari ini.
Revolusi Frankfurt dan Era Lee Kun-hee
Titik balik sesungguhnya terjadi pada tahun 1987 ketika putra ketiga Lee Byung-chul, Lee Kun-hee, mengambil alih kursi pimpinan. Lee Kun-hee menyadari bahwa Samsung saat itu hanya dikenal sebagai produsen barang murah berkualitas rendah. Pada tahun 1993, ia mengumpulkan para eksekutifnya di Frankfurt dan melontarkan perintah legendaris:
“Ubahlah segalanya kecuali istri dan anak-anakmu.”
Inilah awal dari New Management Initiative. Lee Kun-hee menggeser fokus perusahaan dari kuantitas ke kualitas. Ia bahkan pernah membakar 150.000 unit ponsel cacat di depan karyawannya untuk menunjukkan komitmen terhadap kesempurnaan. Di bawah arahannya, Samsung bertransformasi dari perusahaan perakit menjadi inovator global yang melampaui raksasa seperti Sony dan Panasonic dalam waktu kurang dari dua dekade.
Governance: Mesin yang Menjaga Keutuhan Keluarga Lee
Kesuksesan bisnis sering kali diikuti oleh kutukan generasi ketiga: “Generasi pertama membangun, generasi kedua mengembangkan, dan generasi ketiga menghancurkan.” Samsung berhasil mematahkan kutukan ini melalui struktur tata kelola yang sangat spesifik dan berlapis.
- Sistem Cross-Shareholding (Kepemilikan Silang). Meskipun keluarga Lee secara kolektif hanya memiliki persentase kecil dari total saham Samsung Group secara langsung, mereka mempertahankan kendali melalui struktur kepemilikan silang yang rumit. Perusahaan induk seperti Samsung Life Insurance dan Samsung C&T memegang saham di anak perusahaan inti seperti Samsung Electronics. Mekanisme ini memungkinkan keluarga Lee untuk menjaga kendali strategis tanpa harus memiliki 51% saham di setiap entitas, sehingga mencegah pengambilalihan paksa oleh pihak asing.
- Family Constitution: Aturan Main Tak Tertulis. Di Samsung, “Konstitusi Keluarga” mungkin tidak berbentuk dokumen hukum yang kaku di hadapan notaris, melainkan sebuah protokol budaya dan manajerial yang diwariskan. Ini mencakup dua hal yaitu Sentralisasi Keputusan Strategis & Pemisahan Wilayah Kekuasaan. Penggunaan unit koordinasi pusat (dahulu dikenal sebagai Corporate Strategy Office atau CSO) yang memastikan semua anak perusahaan bergerak searah dengan visi pimpinan keluarga. Untuk menghindari bentrokan antar saudara, Lee Byung-chul sejak awal membagi warisan bisnisnya. Sebagai contoh, CJ Group (pangan), Shinsegae (ritel), dan Hansol (kertas) diberikan kepada anak-anaknya yang lain, sementara inti Samsung (elektronik dan keuangan) diberikan kepada penerus utamanya.
- Suksesi yang Dipersiapkan (Grooming). Peralihan kekuasaan kepada Lee Jae-yong (Jay Y. Lee) pada generasi ketiga dilakukan melalui proses magang yang berlangsung selama puluhan tahun. Ia tidak langsung menduduki kursi puncak, melainkan ditempa di berbagai divisi operasional untuk mendapatkan legitimasi dari para eksekutif profesional dan investor.
Baca juga : Family Constitution: Kunci Sukses Bisnis Keluarga Jangka Panjang
Mengapa Bisnis Keluarga Modern Harus Mencontoh Samsung?
Kisah Samsung Group memberikan peta jalan bagi bisnis keluarga di seluruh dunia yang ingin bertransformasi dari bisnis lokal menjadi pemain global.
- Profesionalisme di Atas Nepotisme. Meskipun keluarga Lee memegang kendali strategis (seperti menentukan arah investasi jangka panjang atau akuisisi besar), operasional harian diserahkan kepada CEO profesional yang ahli di bidangnya. Samsung menerapkan sistem manajemen di mana bakat dihargai lebih tinggi daripada senioritas. Hal ini mencegah stagnasi yang sering terjadi jika posisi kunci hanya diisi oleh anggota keluarga tanpa kompetensi yang memadai.
- Ketahanan Terhadap Krisis Internal. Konflik hukum yang melibatkan Lee Jae-yong beberapa tahun lalu menjadi ujian berat bagi tata kelola Samsung. Namun, perusahaan tetap mampu mencatatkan rekor laba. Mengapa? Karena sistem corporate governance mereka sudah sangat terinstitusi. Perusahaan tidak lagi bergantung pada satu individu, melainkan pada sistem yang mampu berjalan secara mandiri meskipun pemimpin utamanya sedang berhalangan.
- Adaptasi Terhadap Standar Global. Samsung belajar bahwa untuk menarik investor global, mereka harus transparan. Seiring berjalannya waktu, mereka mulai memperkuat peran dewan komisaris independen dan meningkatkan kepatuhan (compliance). Bagi bisnis keluarga modern, transparansi bukan berarti kehilangan kendali, melainkan cara untuk mengamankan kepercayaan pasar.
Warisan yang Melampaui Teknologi
Sejarah Samsung adalah bukti bahwa keberhasilan jangka panjang membutuhkan lebih dari sekadar produk yang inovatif; ia membutuhkan struktur organisasi yang mampu meredam ego individu demi kebaikan kolektif. Konstitusi keluarga yang diterapkan keluarga Lee, baik yang bersifat struktural melalui kepemilikan saham maupun kultural melalui pembagian wilayah kekuasaan telah menjadi perisai yang melindungi Samsung dari disintegrasi.
Samsung mengajarkan kepada kita bahwa dalam bisnis keluarga, konflik bukanlah musuh utama, melainkan ketidakhadiran sistem untuk mengelolanya. Dengan tata kelola yang tepat, sebuah bisnis keluarga dapat memiliki kelincahan perusahaan rintisan namun dengan stabilitas sebuah institusi kuno.
