fbpx

Ownership Mindset: Menjaga Keberlanjutan Bisnis Keluarga

Connect Blog
ownership mindset bisnis keluarga connectpedia web

Bisnis dapat diwariskan. Saham dapat dialihkan. Jabatan dapat diberikan kepada generasi berikutnya. Namun, ownership mindset tidak otomatis berpindah dari founder kepada generasi penerus. Inilah salah satu tantangan terbesar dalam menjaga keberlanjutan bisnis keluarga.

Seorang anak dapat tumbuh di tengah lingkungan bisnis, mengenal perusahaan sejak kecil, bahkan mendapatkan posisi strategis dalam organisasi. Namun, kedekatan dengan bisnis keluarga belum tentu membuat seseorang memiliki rasa tanggung jawab yang sama besarnya dengan generasi pendiri.

Bagi founder, bisnis sering kali dibangun melalui perjalanan panjang. Ada masa ketika perusahaan mengalami keterbatasan modal, kehilangan pelanggan, menghadapi tekanan pasar, hingga harus mengambil keputusan sulit demi mempertahankan bisnis.

Pengalaman tersebut secara alami membentuk rasa memiliki yang sangat kuat.

Sementara itu, generasi penerus sering kali masuk ketika perusahaan sudah memiliki sistem, aset, tim, pelanggan, dan reputasi. Mereka menerima bisnis dalam kondisi yang jauh berbeda dibandingkan ketika founder memulainya.

Persoalan regenerasi pun semakin menjadi agenda strategis bagi bisnis keluarga. PwC Global Family Business Survey 2023 melibatkan lebih dari 2.000 pemimpin bisnis keluarga dari 82 wilayah. Dalam temuan regionalnya, menjaga bisnis sebagai aset penting keluarga, membangun legacy, dan memastikan bisnis tetap berada dalam keluarga menjadi beberapa tujuan jangka panjang yang menonjol.

Pertanyaannya kemudian bukan hanya tentang **siapa yang akan mewarisi bisnis keluarga**, tetapi apakah generasi berikutnya memiliki ownership mindset yang cukup kuat untuk menjaga dan mengembangkan bisnis tersebut?

Apa Itu Ownership Mindset?

Ownership mindset adalah pola pikir yang mendorong seseorang untuk melihat keberhasilan, masalah, dan masa depan bisnis sebagai bagian dari tanggung jawabnya sendiri.

Seseorang dengan ownership mindset tidak hanya bertanya, “Apa tugas saya?” Ia juga memikirkan, “Apa yang perlu saya lakukan agar bisnis ini menjadi lebih baik?” Perbedaan tersebut terlihat sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Dalam konteks bisnis keluarga, ownership mindset bukan sekadar status kepemilikan saham atau posisi dalam struktur organisasi. Seseorang dapat menjadi pemegang saham perusahaan keluarga, tetapi belum tentu memiliki pola pikir sebagai pemilik bisnis.

Sebaliknya, seseorang yang memiliki ownership mindset akan menunjukkan perhatian terhadap keberlanjutan perusahaan. Ia memahami konsekuensi dari setiap keputusan, berani mengambil tanggung jawab, serta aktif mencari peluang untuk membawa bisnis berkembang.

Ownership mindset membuat generasi penerus melihat perusahaan bukan sebagai warisan yang harus dinikmati, tetapi sebagai tanggung jawab yang perlu dijaga dan dikembangkan.

Mewarisi Bisnis Tidak Sama dengan Mewarisi Perjuangan

Salah satu alasan mengapa ownership mindset menjadi tantangan dalam bisnis keluarga adalah adanya perbedaan pengalaman antar generasi. Founder mengenal bisnis dari titik paling awal. Mereka mungkin pernah turun langsung mencari pelanggan, mengurus operasional, menghadapi komplain, mengelola keterbatasan cash flow, hingga mengambil keputusan dengan risiko pribadi yang besar.

Setiap fase sulit menciptakan hubungan emosional yang kuat antara founder dan perusahaan. Bagi generasi pendiri, bisnis bukan sekadar aset. Bisnis merupakan hasil dari waktu, energi, keberanian, dan berbagai pengorbanan.

Generasi penerus memiliki pengalaman yang berbeda. Sebagian dari mereka lahir ketika bisnis keluarga sudah berkembang. Mereka mengenal perusahaan ketika kantor sudah berdiri, jumlah karyawan bertambah, pelanggan sudah terbentuk, dan kondisi finansial keluarga relatif lebih stabil.

Mereka dapat mewarisi perusahaan, tetapi tidak mengalami seluruh perjalanan yang membentuk mentalitas founder.

Deloitte Private melalui 2024 Family Enterprise Survey menemukan adanya perbedaan persepsi, rencana, dan sikap antara generasi yang saat ini memimpin dengan generasi penerus. Perbedaan tersebut terlihat dalam berbagai isu, mulai dari risiko dan peluang teknologi hingga kepercayaan dan keyakinan dalam menentukan langkah perusahaan berikutnya.

Artinya, generasi penerus tidak selalu melihat bisnis melalui perspektif yang sama dengan founder.

Hal tersebut tidak selalu berarti mereka kurang peduli. Bisa jadi, mereka tumbuh dalam konteks yang berbeda, menghadapi tantangan yang berbeda, dan melihat peluang melalui sudut pandang yang berbeda pula.

Tantangannya adalah bagaimana perbedaan tersebut dapat diubah menjadi kekuatan, bukan menjadi sumber konflik antar generasi.

Warisan bisnis dapat diberikan. Perjuangan tidak dapat ditransfer.

Ownership mindset perlu dibangun melalui pengalaman, keterlibatan, tanggung jawab, dan proses pembelajaran yang nyata.

Mengapa Generasi Penerus Bisa Kehilangan Ownership Mindset?

Ketika generasi penerus terlihat kurang peduli terhadap bisnis keluarga, founder sering kali langsung menilai mereka tidak memiliki semangat atau kurang bertanggung jawab. Namun, masalahnya bisa jauh lebih kompleks.

Salah satu penyebabnya adalah generasi penerus tidak pernah benar-benar diberikan ruang untuk memiliki tanggung jawab. Mereka mungkin memiliki jabatan, tetapi hampir seluruh keputusan penting tetap berada di tangan founder. Setiap ide harus mendapatkan persetujuan. Setiap kesalahan langsung dikoreksi. Bahkan, keputusan kecil sering kali diintervensi.

Dalam kondisi tersebut, generasi penerus belajar satu hal: keputusan akhir tetap berada pada generasi senior. Akibatnya, mereka lebih nyaman menunggu arahan daripada mengambil inisiatif.

Di sisi lain, ada pula bisnis keluarga yang memberikan fasilitas terlalu besar tanpa diikuti tanggung jawab yang jelas. Generasi penerus mendapatkan posisi, kompensasi, atau akses terhadap perusahaan karena status keluarga, bukan karena kesiapan dan kontribusi. Ketika hak datang lebih cepat dibandingkan tanggung jawab, ownership mindset sulit berkembang.

Masalah lainnya adalah minimnya komunikasi mengenai visi bisnis keluarga. Founder memahami alasan mengapa bisnis dibangun. Namun, generasi berikutnya sering kali hanya mengenal aktivitas operasional perusahaan tanpa memahami makna yang lebih besar di balik bisnis tersebut.

Padahal, PwC Family Business Survey 2023 menunjukkan pentingnya purpose dan nilai keluarga dalam membangun kepercayaan. Dalam temuan PwC di Kanada, bisnis keluarga yang memiliki purpose perusahaan yang jelas, tertulis, dan dikomunikasikan kepada anggota keluarga melaporkan tingkat kepercayaan keluarga yang lebih tinggi.

Tanpa memahami tujuan dan nilai perusahaan, bisnis keluarga dapat terasa seperti “bisnis orang tua” yang suatu hari harus diteruskan karena kewajiban. Bukan sesuatu yang benar-benar ingin mereka perjuangkan.

Ciri Generasi Penerus dengan Ownership Mindset

Ownership mindset dapat terlihat dari cara seseorang merespons situasi dalam bisnis. Generasi penerus dengan ownership mindset tidak hanya aktif ketika kondisi perusahaan sedang baik. Justru, karakter kepemilikan sering kali terlihat ketika perusahaan menghadapi masalah. Mereka tidak sibuk mencari siapa yang harus disalahkan. Mereka berusaha memahami akar persoalan dan mencari solusi.

Ketika target tidak tercapai, mereka tidak hanya menyalahkan kondisi pasar atau tim. Mereka mengevaluasi keputusan yang telah dibuat dan melihat apa yang dapat diperbaiki.

Mereka juga memiliki keberanian untuk menyampaikan pandangan yang berbeda kepada generasi senior. Bukan karena ingin menunjukkan kekuasaan, tetapi karena memiliki kepedulian terhadap masa depan perusahaan.

Selain itu, generasi penerus dengan ownership mindset memahami bahwa keputusan bisnis memiliki konsekuensi jangka panjang. Mereka tidak hanya mengejar hasil cepat. Mereka memikirkan reputasi perusahaan, kualitas tim, hubungan dengan pelanggan, kesehatan finansial, dan keberlanjutan bisnis.

Pertanyaan yang muncul dalam pikirannya bukan hanya, “Apa yang saya dapatkan dari perusahaan?” Namun juga, “Apa yang dapat saya bangun untuk perusahaan?”

Ownership Mindset Tidak Tumbuh dari Ceramah

Banyak founder berharap dapat membangun rasa memiliki melalui nasihat. Generasi penerus sering mendengar cerita mengenai masa-masa sulit perusahaan. “Dulu Papa membangun bisnis ini dari nol.” “Dulu kita tidak punya kantor seperti sekarang.” “Dulu mencari satu pelanggan saja sangat sulit.” Cerita tersebut penting untuk menjaga sejarah dan nilai bisnis keluarga. Namun, cerita saja tidak selalu cukup untuk membangun ownership mindset.

Generasi penerus membutuhkan pengalaman mereka sendiri. Mereka perlu mendapatkan kesempatan memimpin sebuah proyek, mengambil keputusan, mengelola tim, menghadapi kegagalan, dan mempertanggungjawabkan hasil.

Ketika setiap kesalahan selalu dicegah oleh founder, generasi penerus tidak pernah belajar memahami konsekuensi keputusan. Sebaliknya, ketika seluruh tanggung jawab langsung diberikan tanpa proses pendampingan, risiko kegagalan juga menjadi terlalu besar.

Karena itu, membangun ownership mindset membutuhkan keseimbangan antara trust, responsibility, dan accountability. Founder perlu memberikan kepercayaan. Generasi penerus perlu menerima tanggung jawab. Kemudian, setiap keputusan harus memiliki akuntabilitas yang jelas.

Berikan Masalah Nyata, Bukan Sekadar Jabatan

Salah satu kesalahan dalam proses regenerasi bisnis keluarga adalah terlalu fokus pada jabatan. Generasi penerus diangkat menjadi manager, director, bahkan CEO. Namun, tidak ada tantangan bisnis spesifik yang benar-benar menjadi tanggung jawab mereka. Jabatan tanpa tanggung jawab nyata hanya menciptakan posisi formal.

Jika ingin membangun ownership mindset, generasi penerus perlu diberikan masalah bisnis yang nyata untuk diselesaikan.

Misalnya, bagaimana meningkatkan penjualan pada segmen tertentu? Bagaimana mengembangkan channel digital baru? Bagaimana meningkatkan produktivitas tim? Atau bagaimana membuka pasar baru?

  • Berikan target yang jelas.
  • Berikan ruang untuk mengambil keputusan.
  • Tetapkan batas risiko yang dapat diterima.
  • Kemudian, evaluasi hasilnya secara objektif.

Proses tersebut membuat generasi penerus memahami bahwa kontribusi mereka memiliki dampak langsung terhadap perusahaan. Rasa memiliki tumbuh ketika seseorang merasa bahwa keputusan, usaha, dan kontribusinya benar-benar berarti.

Generasi Penerus Ingin Berkontribusi, tetapi Apakah Sudah Diberi Ruang?

Generasi penerus bisnis keluarga bukan sekadar kelompok yang menunggu warisan. PwC Global NextGen Survey 2024 melibatkan 917 anggota generasi penerus bisnis keluarga di 63 wilayah. Survei tersebut dirancang untuk memahami bagaimana NextGen melihat berbagai isu penting, peran yang mereka jalankan saat ini, serta peran yang menurut mereka seharusnya dijalankan dalam bisnis keluarga.

Temuan PwC menyoroti tiga area penting bagi generasi penerus: innovation, trust, dan succession.

Hal ini menunjukkan pentingnya melihat generasi penerus bukan hanya sebagai “calon pengganti founder”, tetapi sebagai calon steward atau penjaga keberlanjutan bisnis keluarga.

Namun, keinginan untuk berkontribusi perlu bertemu dengan ruang untuk berkontribusi.

Generasi penerus sulit membangun ownership mindset jika hanya diminta mengikuti sistem yang sudah ada tanpa kesempatan mempertanyakan, memperbaiki, atau menciptakan sesuatu yang baru.

Sebaliknya, founder juga tidak dapat memberikan kebebasan tanpa memastikan kesiapan generasi berikutnya.

Karena itu, proses regenerasi membutuhkan dialog antar generasi. Founder membawa pengalaman, business wisdom, dan pemahaman mendalam mengenai perjalanan perusahaan. Generasi penerus membawa perspektif baru, pemahaman terhadap perubahan teknologi, serta cara berbeda dalam melihat pelanggan dan masa depan pasar.

Ownership mindset tumbuh ketika generasi penerus tidak hanya merasa bahwa bisnis tersebut suatu hari akan menjadi miliknya. Mereka perlu merasakan bahwa hari ini pun kontribusinya memiliki arti bagi masa depan perusahaan.

Founder Juga Perlu Belajar Melepaskan Kontrol

Pembahasan mengenai ownership mindset sering kali terlalu fokus kepada generasi penerus. Padahal, founder juga memiliki peran besar dalam membentuk pola pikir tersebut. Sulit bagi generasi berikutnya untuk memiliki ownership mindset jika mereka tidak pernah benar-benar diberikan kesempatan untuk memiliki keputusan.

Banyak founder mengatakan ingin anaknya lebih proaktif. Namun, ketika generasi penerus mengambil keputusan berbeda, founder segera mengambil alih. Founder ingin penerus memiliki inisiatif, tetapi pada saat yang sama mengharapkan semua keputusan dilakukan dengan cara yang sama seperti generasi sebelumnya.

Kontradiksi ini sering terjadi dalam bisnis keluarga. Melepaskan kontrol memang tidak mudah. Bisnis yang dibangun selama puluhan tahun memiliki nilai emosional yang sangat besar. Wajar jika founder merasa khawatir ketika keputusan penting mulai diberikan kepada generasi berikutnya.

Namun, proses regenerasi membutuhkan perubahan peran. Founder secara bertahap perlu bergerak dari decision maker menjadi mentor. Bukan berarti kehilangan kontrol sepenuhnya. Founder tetap dapat menentukan prinsip, batas risiko, dan arah strategis perusahaan. Namun, generasi penerus perlu memiliki ruang untuk menemukan cara mereka sendiri dalam mencapai tujuan bisnis.

Bangun Ownership Mindset Sebelum Membahas Suksesi

Banyak bisnis keluarga mulai serius membahas generasi penerus ketika founder mendekati masa pensiun. Pada saat itu, pertanyaan mengenai siapa yang akan menjadi CEO berikutnya mulai muncul. Sayangnya, ownership mindset tidak dapat dibangun dalam waktu singkat. Rasa tanggung jawab terhadap bisnis perlu tumbuh melalui proses panjang.

Generasi penerus membutuhkan kesempatan untuk mengenal bisnis dari berbagai perspektif, memahami pelanggan, bekerja bersama tim, menghadapi tekanan, dan melihat langsung konsekuensi dari keputusan bisnis.

PwC juga menekankan bahwa perubahan terkait innovation, trust, dan succession tidak seharusnya menunggu hingga transisi kepemilikan antargenerasi terjadi secara alami. Persiapan tersebut perlu dimulai lebih awal.

Karena itu, proses regenerasi seharusnya dimulai jauh sebelum pergantian kepemimpinan terjadi. Suksesi bukan sebuah peristiwa. Suksesi adalah proses. Dan salah satu fondasi terpenting dari proses tersebut adalah membangun ownership mindset pada generasi berikutnya.

Bisnis Bisa Diwariskan, Ownership Mindset Harus Dibangun

Keberlanjutan bisnis keluarga tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar aset yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah generasi penerus siap mengambil tanggung jawab atas masa depan bisnis tersebut?

Ownership mindset tidak muncul karena hubungan darah. Ia tidak otomatis hadir karena seseorang memiliki saham perusahaan. Dan ia tidak terbentuk hanya karena seseorang mendapatkan jabatan strategis.

Ownership mindset tumbuh ketika generasi penerus diberikan kesempatan untuk terlibat, mengambil keputusan, menghadapi konsekuensi, dan menciptakan kontribusi nyata bagi perusahaan.

Pada saat yang sama, founder perlu menciptakan ruang bagi generasi berikutnya untuk bertumbuh. Karena pada akhirnya, tantangan terbesar bisnis keluarga bukan hanya menemukan siapa yang akan menerima warisan bisnis. Namun, bagaimana membentuk generasi yang memiliki keberanian, tanggung jawab, dan rasa memiliki untuk membawa bisnis keluarga menuju babak berikutnya.

Bisnis dapat diwariskan dalam satu generasi. Namun, ownership mindset harus dibangun melalui proses.

Bagi keluarga bisnis, proses tersebut sebaiknya dimulai hari ini.

Related Posts

Menu