fbpx

Menyatukan Family Values dan Kebutuhan Bisnis di Generasi Baru Mayora

Connect Blog

Di tengah hiruk-pikuk rak supermarket di lebih dari seratus negara, terselip produk-produk ikonik yang barangkali sudah menjadi bagian dari memori kolektif kita. Sebut saja aroma khas kopi dari Kopiko yang bahkan sampai ke luar angkasa, renyahnya biskuit Roma yang menemani teh sore, hingga inovasi minuman Le Minerale yang mendisrupsi pasar. Di balik dominasi pasar tersebut, berdiri sebuah entitas bisnis raksasa bernama Mayora Group. Namun, di balik angka-angka pertumbuhan yang mengesankan dan pabrik-pabrik canggih yang beroperasi 24 jam, terdapat sebuah narasi yang lebih intim: sebuah kisah tentang bagaimana sebuah dinasti bisnis keluarga mampu mempertahankan “jiwanya” di tengah badai korporatisasi dan modernisasi.

Perjalanan Mayora dimulai pada tahun 1977, berawal dari sebuah industri rumahan yang sederhana namun memiliki visi yang melampaui masanya. Jogi Hendra Atmadja, sang pendiri, tidak hanya membangun pabrik biskuit, tetapi ia sedang meletakkan batu pertama bagi sebuah filosofi kerja yang akan bertahan selama dekade-dekade berikutnya. Sejak awal, Mayora dibentuk dengan fondasi yang sangat personal. Dalam banyak perusahaan keluarga, nilai-nilai seringkali hanya menjadi pajangan di dinding kantor, namun bagi Mayora, nilai tersebut adalah kompas operasional. Prinsip “kekeluargaan” di sini bukan berarti manajemen yang bersifat santai atau tidak terukur, melainkan sebuah komitmen mendalam terhadap rasa memiliki (sense of belonging) yang ditanamkan kepada setiap individu, mulai dari jajaran direksi hingga operator di lini produksi terdepan.

Memasuki fase pertumbuhan yang masif, tantangan terbesar bagi Mayora seperti halnya bisnis keluarga lainnya—adalah bagaimana menjaga relevansi nilai-nilai lama di hadapan generasi baru. Transisi kepemimpinan dari generasi pendiri ke generasi penerus sering kali menjadi titik nadir bagi banyak perusahaan, namun Mayora menavigasinya dengan cara yang cukup unik. Mereka tidak memandang modernitas sebagai musuh tradisi, melainkan sebagai alat untuk memperkuat tradisi tersebut. Generasi baru keluarga Atmadja yang mulai memegang kendali strategis membawa perspektif segar yang lebih teknokratis, namun tetap diwajibkan untuk “magang” dalam filosofi dasar perusahaan. Mereka tidak serta-merta mewarisi kursi empuk; mereka harus memahami dinamika lantai pabrik, merasakan ketatnya persaingan distribusi, dan yang terpenting, menyerap etika kerja yang telah dibangun selama hampir setengah abad.

Satu hal yang membuat Mayora menonjol adalah kemampuannya menyatukan family values dengan profesionalisme yang tanpa kompromi. Dalam koridor kantor pusatnya, profesionalisme tidak dilihat sebagai antitesis dari kekeluargaan. Sebaliknya, Mayora menerapkan sistem meritokrasi yang ketat. Para profesional non-keluarga diberikan ruang seluas-luasnya untuk menduduki posisi strategis, selama mereka mampu mengadopsi DNA perusahaan yang mengutamakan integritas dan kerja keras. Integrasi ini menciptakan sebuah ekosistem yang seimbang: di satu sisi, ada stabilitas dan loyalitas jangka panjang yang menjadi ciri khas bisnis keluarga, dan di sisi lain, ada ketangkasan serta efisiensi yang menjadi ciri khas korporasi global. Hal ini mencegah perusahaan dari penyakit nepotisme yang merusak, namun tetap menjaga kehangatan hubungan antarmanusia yang seringkali hilang di perusahaan-perusahaan multinasional yang kaku.

Aspek “kebutuhan bisnis” dalam generasi baru Mayora juga terlihat sangat jelas dalam strategi inovasi mereka. Generasi penerus menyadari bahwa loyalitas konsumen tidak bisa dipertahankan hanya dengan nostalgia. Oleh karena itu, mereka melakukan transformasi digital yang menyeluruh, mulai dari otomatisasi rantai pasok hingga penggunaan data analitik untuk memahami perilaku konsumen yang kian kompleks. Namun, di setiap peluncuran produk baru, ada satu filter yang tidak pernah berubah: apakah produk ini memberikan nilai manfaat bagi “keluarga” besar konsumen kita? Kepercayaan bahwa setiap konsumen adalah bagian dari keluarga Mayora inilah yang membuat mereka sangat teliti dalam menjaga standar kualitas. Mereka tidak hanya menjual komoditas; mereka menjual kepercayaan yang telah dirawat selama bertahun-tahun.

Ekspansi global Mayora juga menjadi bukti suksesnya penyatuan dua dunia ini. Saat memutuskan untuk menembus pasar luar negeri, mereka tidak hanya membawa produk, tetapi juga etos kerja “Satu Hati, Satu Pikiran”. Di negara-negara seperti Filipina, Vietnam, hingga Nigeria, Mayora membangun kekuatan distribusinya dengan pendekatan yang sangat personal, membangun hubungan jangka panjang dengan mitra lokal seolah-olah mereka adalah bagian dari keluarga besar perusahaan. Strategi ini terbukti lebih efektif dibandingkan pendekatan transaksional murni, karena menciptakan ketahanan bisnis saat menghadapi krisis ekonomi global. Mitra-mitra global merasa memiliki ikatan emosional yang kuat dengan brand, karena mereka diperlakukan dengan nilai-nilai kemitraan yang adil dan transparan.

Baca juga: Mayora Group & Kekuatan Storytelling Bisnis Keluarga Hingga Mendunia

Selain itu, keberlanjutan bisnis Mayora di tangan generasi baru juga sangat dipengaruhi oleh cara mereka menangani talenta muda atau Gen Z yang mulai mendominasi angkatan kerja. Di sini, nilai kekeluargaan diterjemahkan menjadi lingkungan kerja yang mendukung pertumbuhan dan kesejahteraan mental. Perusahaan menyadari bahwa untuk tetap kompetitif, mereka harus menjadi wadah di mana aspirasi individu bisa selaras dengan tujuan besar organisasi. Dengan menggabungkan ketegasan prinsip lama dengan fleksibilitas gaya kepemimpinan modern, Mayora berhasil menciptakan budaya kerja yang tidak hanya produktif secara angka, tetapi juga sehat secara psikologis.

Menariknya, di tengah arus tren ESG (Environmental, Social, and Governance) yang kini menjadi standar dunia, Mayora menemukan bahwa banyak dari prinsip tersebut sebenarnya sudah selaras dengan nilai-nilai keluarga yang mereka anut sejak dulu. Tanggung jawab sosial bukan lagi sekadar program CSR untuk pencitraan, melainkan perpanjangan dari rasa syukur keluarga atas pencapaian yang ada. Mereka berinvestasi pada teknologi pengolahan limbah yang lebih baik dan pemberdayaan petani lokal bukan hanya karena tekanan regulasi, tetapi karena ada tanggung jawab moral sebagai “kepala keluarga” industri untuk menjaga lingkungan tempat mereka tumbuh.

Sebagai penutup, kisah Mayora adalah sebuah pengingat bahwa dalam dunia bisnis yang semakin dingin dan didorong oleh algoritma, sentuhan kemanusiaan dan nilai-nilai keluarga tetap memiliki tempat yang sangat krusial. Keberhasilan mereka bukan terletak pada kemampuan mereka untuk melupakan masa lalu demi mengejar masa depan, melainkan pada keberanian untuk membawa masa lalu tersebut ke dalam konteks masa kini yang lebih canggih. Mayora telah membuktikan bahwa perusahaan yang memiliki “akar” yang kuat dalam nilai-nilai keluarga akan lebih mampu bertahan dalam menghadapi guncangan dibandingkan perusahaan yang hanya mengejar keuntungan jangka pendek. Di tangan generasi baru, nilai-nilai tersebut tidak menjadi beban yang memperlambat gerak, melainkan menjadi sayap yang membawa mereka terbang lebih tinggi di panggung dunia, membuktikan bahwa bisnis keluarga Indonesia mampu bersaing dan memimpin di kancah global tanpa kehilangan identitasnya.

Related Posts

No results found.

Menu