fbpx

Leadership & Legacy: Bagaimana Mayapada Group Membangun Kerajaan Bisnis?

Connect Blog

Mayapada Group adalah nama yang tidak asing dalam lanskap konglomerasi Indonesia. Didirikan oleh Dato’ Sri Tahir, perusahaan ini sering dijadikan studi kasus sukses, bukan hanya karena skalanya yang masif di sektor perbankan, properti, dan kesehatan, tetapi juga karena filosofi pendirinya. Group ini membuktikan bahwa membangun kerajaan bisnis lintas generasi membutuhkan lebih dari sekadar modal finansial. Inti dari kesuksesan Mayapada Group terletak pada dua pilar utama: kepercayaan (trust) yang dijaga ketat di tengah berbagai krisis, dan filantropi sebagai komitmen sosial yang tidak terpisahkan.

Sejarah Singkat: Dari Keterbatasan Menuju Konglomerasi

Perjalanan Leadership Mayapada dimulai dari titik yang sangat sederhana. Dato’ Sri Tahir, yang lahir dengan nama Ang Tjoen Ming, berasal dari keluarga yang sangat sederhana, di mana orang tuanya berprofesi sebagai penyewa becak di Surabaya. Cita-cita awalnya untuk menjadi seorang dokter terpaksa kandas karena keterbatasan biaya.

Pengalaman ini menanamkan filosofi kegigihan yang luar biasa, mengubah rasa minder menjadi energi positif untuk membangun usaha. Awalnya, ia merintis bisnis di sektor tekstil. Namun, titik balik yang mengubah lanskap bisnisnya secara fundamental terjadi pada tahun 1990 dengan berdirinya PT Bank Mayapada International.

  1. Fondasi di Sektor Keuangan (1990). Pendirian Bank Mayapada menjadi langkah strategis yang sangat berani. Kunci keberhasilan awalnya adalah pendekatan yang hati-hati namun progresif, berfokus pada pembangunan kepercayaan nasabah dan prinsip tata kelola yang kuat.
  2. Diversifikasi dan Ekspansi. Dengan Bank Mayapada sebagai inti, Grup ini kemudian melakukan diversifikasi ke berbagai sektor vital lainnya, termasuk Properti & Real Estate (Mayapada Tower, residence, dll.), Media & Percetakan (Forbes Indonesia, Tempo, dll.), Layanan Kesehatan (Mayapada Hospital Group), Ritel (duty-free shopping dan lainnya). Diversifikasi ini tidak hanya mengurangi risiko bisnis tetapi juga menciptakan ekosistem yang saling mendukung, mengokohkan posisi Mayapada Group sebagai konglomerasi yang tangguh.

Pilar Pertama: Kepercayaan (Trust) sebagai Mata Uang Utama

Dalam dunia bisnis keluarga, warisan sering kali diukur dalam nilai aset, namun bagi Mayapada Group, warisan utamanya adalah kepercayaan.

  • Lulus Ujian Krisis Moneter. Filosofi kepercayaan ini diuji dan terbukti saat Badai Krisis Moneter Asia 1997/1998 melanda. Saat banyak bank lain kolaps, Bank Mayapada berhasil selamat. Kunci keberhasilannya? Mereka menghindari pengambilan pinjaman valuta asing yang besar, yang berisiko tinggi saat Rupiah jatuh bebas. Kelangsungan ini bukan hanya menunjukkan manajemen risiko yang bijak, tetapi juga memperkuat kepercayaan publik dan regulator terhadap stabilitas Group, menjadikannya anomali positif di tengah kehancuran.
  • Membangun Jaringan Trust. Kepercayaan Investor dan Regulator: Di sektor keuangan, kredibilitas dan kepatuhan adalah segalanya. Mayapada Group selalu menjaga prinsip tata kelola yang kuat. Grup ini membangun jaringan kemitraan yang luas, domestik maupun internasional, yang didasarkan pada komitmen untuk selalu menepati janji dan menjunjung tinggi integritas. Trust internal juga dijaga melalui struktur tata kelola yang jelas dan profesionalisme, memastikan suksesi yang mulus.

Pilar Kedua: Filantropi dan Dampak Sosial

Warisan Mayapada Group tidak terpisahkan dari peran aktifnya dalam filantropi, yang menjadi ciri khas dan prinsip hidup keluarga Tahir. Bagi mereka, filantropi adalah bagian integral dari strategi bisnis dan nilai keluarga.

Aksi Nyata yang Memberi Dampak

  • Sektor Kesehatan: Melalui Mayapada Hospital Group, mereka menyediakan layanan kesehatan berkualitas, didukung oleh standar medis internasional.
  • Sektor Pendidikan: Dato’ Sri Tahir adalah anggota dari dewan pengawas di beberapa institusi pendidikan terkemuka global, menunjukkan komitmennya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
  • Kemanusiaan Global: Melalui Tahir Foundation, mereka secara rutin berdonasi dalam skala besar untuk bencana alam dan proyek kemanusiaan, sering kali bekerja sama dengan lembaga global seperti PBB dan Bill & Melinda Gates Foundation.

Keterlibatan aktif dalam filantropi tidak hanya membangun reputasi yang baik (goodwill) tetapi juga memberikan purpose yang lebih besar bagi bisnis, memotivasi generasi muda keluarga untuk tidak hanya mencari keuntungan tetapi juga meninggalkan jejak positif bagi masyarakat.

Leadership dan Legacy: Menyongsong Generasi Berikutnya

Transisi kepemimpinan menjadi ujian terbesar bagi bisnis keluarga mana pun. Di Mayapada Group, estafet ini telah dipersiapkan dengan matang dan profesional.

  • Pemberdayaan Generasi Kedua: Anak-anak Dato’ Sri Tahir telah mengambil peran penting di berbagai pilar bisnis, membawa energi dan perspektif baru. Pembagian peran yang jelas memastikan legacy dijalankan oleh pemimpin yang terstruktur: Jonathan Tahir memimpin ekspansi Mayapada Healthcare sebagai Group CEO, Grace Tahir (Direktur Utama SRAJ) dikenal karena perannya dalam sektor kesehatan dan juga aktif dalam startup kesehatan digital, Jane Tahir dan Victoria Tahir juga memegang peran kunci di pilar bisnis properti dan kesehatan Group.
  • Profesionalisme di Atas Segalanya: Group ini memastikan bahwa keputusan bisnis didasarkan pada merit dan tata kelola terbaik. Pembagian peran ini menghindari konsentrasi kekuasaan dan mendukung manajemen yang lebih terfokus.

Kisah Mayapada Group adalah bukti nyata bahwa sebuah kerajaan bisnis dapat dibangun dan dipertahankan dengan menggabungkan ambisi wirausaha yang gigih yang dimulai dari titik nol dengan prinsip moral yang kuat. Bagi bisnis keluarga di komunitas Connectpedia, pelajaran terpenting adalah: Modal sejati bukanlah uang, melainkan integritas dan kemampuan untuk menjaga kepercayaan prinsip yang telah mengukir nama Mayapada Group hingga hari ini.

Related Posts

No results found.

Menu