fbpx

Dewi Sri Spa Krisis Pewaris: Generasi Z Menghindar dari Bisnis Keluarga?

Connect Blog

Industri wellness dan perawatan tubuh di Indonesia saat ini berada pada titik balik yang krusial, di mana pertumbuhan pasar global yang diproyeksikan mencapai 8,6% per tahun hingga 2027 oleh Global Wellness Institute (GWI) justru berbanding terbalik dengan tantangan regenerasi internal yang dihadapi banyak bisnis keluarga. Fenomena succession gap ini bukan sekadar statistik, melainkan realitas yang mengancam keberlanjutan warisan budaya di tangan generasi muda yang kini memiliki aspirasi karier di luar sektor tradisional. Merek premium seperti Dewi Sri Spa, yang merupakan bagian dari ekosistem raksasa Martha Tilaar Group, menjadi representasi bagaimana sebuah identitas bisnis yang dibangun dengan narasi “Local Wisdom” harus berjuang mencari titik temu antara nilai-nilai luhur masa lalu dan kebutuhan adaptasi digital masa kini. Kegagalan dalam menjembatani visi antargenerasi ini berisiko membuat bisnis keluarga di sektor kebugaran kehilangan relevansinya, mengingat hanya sekitar 12% dari bisnis semacam ini yang mampu bertahan hingga ke tangan generasi ketiga.

Keberhasilan Dewi Sri Spa sebagai pelopor perawatan tubuh premium tidak bisa dilepaskan dari sosok legendaris Dr. (H.C.) Martha Tilaar, yang memulai perjalanannya dari sebuah garasi kecil di rumah orang tuanya di Menteng pada tahun 1970. Sebagai seorang perempuan visioner yang sempat menimba ilmu kecantikan di Amerika Serikat, Martha Tilaar kembali ke tanah air dengan misi besar untuk mengangkat derajat jamu dan bahan alami Indonesia ke panggung internasional. Dewi Sri Spa sendiri lahir sebagai lini eksklusif yang terinspirasi oleh Dewi Sri, dewi kesuburan dan kemakmuran dalam mitologi nusantara, dengan produk-produk yang mengunggulkan ekstrak padi serta minyak esensial murni. Melalui filosofi Rupasampat Wahyabiantara (kecantikan luar dan dalam), Martha Tilaar berhasil mengubah persepsi perawatan tradisional dari sekadar layanan pijat biasa menjadi sebuah gaya hidup mewah yang dihargai secara global, mulai dari pasar domestik hingga ke mancanegara.

Namun, di balik kegemilangan merek ini, transisi kepemimpinan ke generasi kedua menghadirkan beban psikologis dan operasional yang tidak ringan bagi para penerusnya, seperti Wulan Tilaar yang kini memegang divisi sekolah dan spa. Tantangan utama yang sering muncul dalam studi kasus bisnis keluarga seperti ini adalah fenomena “bayang-bayang pendiri,” di mana ekspektasi publik dan keluarga terhadap sang penerus seringkali terlalu tinggi untuk disamai. Generasi muda sering kali merasa enggan melanjutkan bisnis ini karena sifat industri wellness yang sangat padat karya dan menuntut kehadiran fisik serta manajemen emosional yang intensif, suatu kontras tajam dengan dunia teknologi atau startup yang menawarkan fleksibilitas dan efisiensi melalui otomasi. Friksi ini diperparah dengan perbedaan gaya kepemimpinan; sementara generasi pertama membangun bisnis dengan pendekatan intuitif dan kekeluargaan, generasi kedua dituntut untuk melakukan profesionalisasi dan digitalisasi di tengah struktur organisasi yang mungkin masih bersifat konservatif.

Baca juga : Leadership Next Gen: Kompetensi Wajib Penerus Usaha Keluarga

Permasalahan suksesi ini menjadi semakin kompleks saat memasuki wilayah “politik keluarga” dan pemisahan antara kepentingan profesional dengan urusan domestik, sebagaimana diungkapkan oleh Kilala Tilaar dalam pengalamannya mengelola grup. Banyak penerus merasa enggan karena sistem yang belum mapan membuat garis antara kepemilikan saham dan otoritas operasional menjadi kabur, sehingga setiap keputusan strategis sering kali terjebak dalam perdebatan keluarga yang melelahkan. Di pusat-pusat industri kebugaran seperti Bali, di mana Dewi Sri Spa menjadi ikon, tantangan untuk terus berinovasi tanpa menghilangkan identitas tradisional memerlukan energi yang besar. Momentum kritis ini biasanya terjadi saat bisnis memasuki usia emasnya, di mana para pendiri mulai bersiap untuk pensiun, namun di saat yang sama, industri telah berubah secara radikal pasca-pandemi, menuntut pemikiran yang jauh lebih modern dan disruptif dari para pewaris takhta.

Untuk mengatasi keengganan generasi muda dalam melanjutkan tongkat estafet, solusi yang ditawarkan harus melampaui sekadar pelimpahan tanggung jawab operasional. Transformasi menuju Professional Corporate Family Business menjadi kunci, di mana anggota keluarga tidak harus terjun langsung sebagai CEO, melainkan bisa berperan sebagai pemegang visi atau dewan komisaris, sementara manajemen harian dipercayakan kepada kalangan profesional. Sinergi antara penghormatan terhadap sejarah panjang Martha Tilaar dalam melestarikan budaya dan keterbukaan terhadap inovasi “Eco-Wellness” masa kini adalah jalan tengah yang diperlukan. Dengan cara ini, merek legendaris seperti Dewi Sri Spa tidak hanya akan bertahan sebagai sebuah bisnis, tetapi juga terus tumbuh menjadi warisan hidup (living legacy) yang mampu beradaptasi dengan setiap perubahan zaman tanpa kehilangan jiwanya.

Apakah Anda merasa terbebani dengan ekspektasi besar dalam melanjutkan bisnis keluarga?

Di Connectpedia, kami memahami bahwa suksesi bukan sekadar soal jabatan, tapi soal harmoni keluarga dan keberlanjutan visi. Ingin tahu bagaimana menyusun sistem profesional yang memisahkan urusan meja makan dan meja kerja? Mari diskusikan solusinya bersama kami.

Related Posts

No results found.

Menu