fbpx

Kenapa 70% Bisnis Keluarga Gagal di Generasi Ketiga? Memahami Tantangan Setiap Generasi dan Cara Mencegahnya

Connect Blog

“Generasi pertama membangun, generasi kedua menikmati, generasi ketiga menghancurkan.” Pernahkah Anda mendengar pepata ini? Atau pepatah Cina yang berbunyi Fu bu guo san dai,” bahwa bisnis keluarga gagal bertahan hingga generasi ketiga. Sayangnya, ini bukan sekadar pepatah. Ini adalah kenyataan yang menghantui ribuan bisnis keluarga di Indonesia.

Bayangkan seorang ayah membangun bisnis dari nol. Bangun pukul 4 pagi, pulang tengah malam, uang hasil jualan dipakai beli stok lagi. Tidur di toko karena takut kemalingan. Makan seadanya. Dari warung kecil, perlahan jadi toko besar. Dari toko, jadi pabrik. Dari pabrik, jadi distributor. Puluhan tahun kerja keras, bisnis akhirnya sukses. Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Anak-anaknya mengambil alih. Awalnya lancar. Tapi perlahan, ada masalah. Konflik antar saudara. Keputusan lambat. Inovasi stagnan. Revenue turun. Dalam 10-15 tahun, bisnis yang dibangun selama 30 tahun runtuh. Ini bukan cuma cerita fiksi. Ini terjadi di ribuan bisnis keluarga Indonesia setiap tahunnya.

Dosen Departemen Manajemen yang menekuni kajian family business, Rocky Adiguna, S.E., M.Sc., Ph.D dalam program 360 episode manajemen “Why Family Businesses Are Decimating in the New Generation” menjelaskan bahwa dari 80% perusahaan keluarga hanya 30% yang mampu berlanjut ke generasi kedua, dan sekitar 12% yang bertahan hingga generasi ketiga. Artinya, terdapat kecenderungan transisi antar generasi yang semakin sulit. Sisanya? Bangkrut, dijual, atau bubar karena konflik keluarga. Ini bukan soal nasib buruk. Ini soal tantangan dan pola yang berulang.

  • Tidak Merasakan Masa Lapar

Generasi pertama tumbuh dalam kekurangan. Mereka bangun bisnis dari nol dengan insting survival, bekerja 18 jam sehari tujuh hari seminggu, dan berani ambil risiko besar karena tidak ada yang perlu dipertaruhkan. Setiap keputusan adalah keputusan hidup-mati. Sementara generasi kedua dan ketiga lahir serba berkecukupan. Semua sudah disiapkan: modal, koneksi, infrastruktur. Risk appetite mereka rendah karena takut kehilangan kenyamanan.

Timothy Ronald, dalam wawancaranya dengan Hermanto Tanoko (pengusaha sukses generasi ketiga dari keluarga Kalla Group), menjelaskan bahwa jika generasi pertama bekerja untuk bertahan hidup dan generasi kedua berjuang untuk mempertahankan stabilitas, maka generasi ketiga tiba-tiba dihadapkan pada dunia baru dimana kekayaan menjadi gaya hidup. Dampaknya nyata: semangat berjuang digantikan rasa aman, fokus bergeser dari “bagaimana bertahan” ke “bagaimana menikmati”, decision-making lambat karena terlalu banyak pertimbangan kenyamanan, dan tidak ada urgency untuk berinovasi.

Banyak perusahaan keluarga yang runtuh bukan karena strategi bisnis buruk, tapi karena generasi ketiga lebih sibuk pamer mobil mewah di Instagram daripada membaca laporan arus kas. Tekanan media sosial, budaya “rich kid”, dan kemudahan konsumsi menciptakan generasi pewaris yang cepat menikmati hasil tetapi lambat memahami proses.

  • Tidak Ada Perencanaan Suksesi

Ini adalah penyebab nomor satu kegagalan bisnis keluarga menurut berbagai penelitian. Yang sering terjadi adalah pendiri menjalankan bisnis seperti biasa, merasa masih kuat, tidak pernah membicarakan siapa yang akan menggantikan, tidak ada training atau mentoring untuk generasi penerus. Suksesi terjadi secara mendadak karena sakit, kecelakaan, atau meninggal. Generasi penerus menerima dengan kaget dan tidak siap.

Kasus Bakrie Group adalah contoh nyata dari kegagalan perencanaan suksesi. Bakrie Group, salah satu konglomerat terbesar Indonesia, didirikan Achmad Bakrie tahun 1942. Bisnis berkembang pesat di pertambangan, telekomunikasi, properti, dan media. Tahun 1992, Achmad Bakrie serahkan kepemimpinan ke anak-anaknya: Aburizal, Nirwan, Indra, dan Rosan. Namun, suksesi tidak dipersiapkan matang. Tidak ada clarity siapa pegang apa dan tidak ada mekanisme governance yang jelas. Hasilnya adalah konflik internal, utang menumpuk, dan saham anjlok. Bakrie Group yang dulu jaya kini menghadapi banyak masalah finansial dan reputasi.

  • Pendidikan Tidak Relevan dengan Bisnis

Skenario yang umum terjadi adalah ayah membangun bisnis manufaktur besar selama 30 tahun, lalu mengirim anak ke luar negeri untuk sekolah jurusan Kedokteran, Seni, atau Arsitektur. Saat diminta pulang mengambil alih bisnis, anak tidak paham apa-apa tentang manufaktur. Gap pengetahuan sangat besar. Anak tidak punya passion di bisnis keluarga karena passion-nya di tempat lain, tidak paham industri, proses produksi, supply chain, atau customer behavior. Mereka mengambil keputusan berdasarkan teori buku, bukan praktik lapangan, dan karyawan lama tidak respect karena menganggap mereka hanya “anak bos yang tidak ngerti apa-apa”.

  • Konflik Keluarga yang Tidak Terkelola

Bisnis keluarga adalah perpaduan antara family dynamics dan business logic. Dan seringkali, emosi mengalahkan logika. Sumber konflik umum termasuk pertanyaan tentang siapa yang jadi CEO (anak sulung, anak paling kompeten, atau menantu yang pintar?), bagaimana pembagian saham (rata atau sesuai kontribusi?), anak yang kerja di perusahaan versus yang tidak kerja (apa haknya sama?), pasangan (menantu) ikut campur dalam keputusan bisnis, dan kakak-adik rebutan posisi strategis.

Hermanto Tanoko menjelaskan bahwa perusahaan yang berhasil melewati generasi ketiga selalu punya pola sama: struktur formal, dewan keluarga, kode etik, pemisahan kepemilikan dan manajemen, serta mekanisme penyelesaian konflik keluarga. Sementara yang gagal biasanya menolak formalitas. Mereka tetap mengelola perusahaan besar dengan budaya warung sembako.

  • Tidak Ada Profesionalisasi

Karakteristik bisnis keluarga yang gagal adalah semua posisi kunci dipegang keluarga bahkan yang tidak kompeten, tidak ada struktur organisasi yang jelas, tidak ada job description formal, KPI dan performance evaluation tidak ada, gaji dan benefit tidak transparan (yang dekat dengan bos dapat lebih banyak), dan profesional dari luar tidak diberi ruang untuk memimpin. Yang terjadi adalah talent terbaik kabur karena tidak ada career path, yang tersisa adalah “yes-men” yang hanya nurut bos, tidak ada checks and balances, keputusan bisnis besar diambil berdasarkan “feeling” atau “kata papi”, dan perusahaan tidak bisa scale karena tidak punya sistem.

Contoh nyata adalah ketika CEO adalah anak sulung meskipun tidak punya kompetensi, CFO adalah adik bungsu yang sebenarnya backgroundnya desain grafis, Manajer operasional adalah sepupu yang “kasihan nganggur”, sementara professional manager dengan MBA dan 20 tahun pengalaman? Posisinya di bawah “anak bos” yang baru lulus S1. Bagaimana mau maju?

  • Gagal Beradaptasi dengan Perubahan Zaman

Generasi pertama bangun bisnis di tahun 1980-1990an ketika tidak ada internet, tidak ada e-commerce, kompetisi lokal bukan global, customer loyalty tinggi, dan marketing via mulut ke mulut dan iklan koran. Generasi ketiga ambil alih di tahun 2020an ketika digital transformation adalah kunci, e-commerce menggantikan toko fisik, social media marketing lebih efektif dari iklan konvensional, customer bisa banding harga dalam 5 detik via smartphone, dan kompetisi global dimana produk China bisa lebih murah dan cepat sampai.

Baca juga: Legacy & Transformasi: Kalbe Farma Memecahkan Mitos Generasi Ketiga

Namun, banyak bisnis keluarga tetap pakai sistem manual (pembukuan di buku besar, stok di Excel), tidak punya website atau marketplace, tidak paham social media marketing, proses produksi masih kuno dan tidak efisien, dan menolak perubahan karena “dulu papi gak pakai ginian juga bisa sukses kok” sehingga tidak ada digitalisasi, dan pelayanan manual memakan biaya lebih besar tapi revenue tidak naik. Hasilnya adalah kompetitor yang lebih agile dan digital-savvy mengambil alih market share.

Lantas, Apakah Semua Bisnis Keluarga Ditakdirkan Gagal?

Tidak. Meski angka keberhasilannya kecil, bukan berarti mustahil. Ada perusahaan keluarga yang bertahan bahkan sampai generasi ke-4 dan ke-5 seperti Kalla Group di Sulawesi (sudah generasi ke-3), Gudang Garam dari keluarga Wonowidjojo (gen ke-3), Wings Group dari keluarga Himawan (gen ke-2 menuju ke-3), dan Mustika Ratu dari keluarga Mooryati Soedibyo (gen ke-3). Apa yang mereka lakukan berbeda?

Dari berbagai penelitian dan pengalaman konglomerat dunia, ada pola sukses yang konsisten. 

  1. Succession planning sejak dini dimana suksesi disiapkan 10-15 tahun sebelum terjadi, anak-anak dilatih sejak muda melalui magang, kerja dari bawah, rotation di berbagai divisi, dan ada clear roadmap siapa pegang apa dan kapan. 
  2. Anak-anak “turun gunung” dan ditempa di lapangan dimana mereka tidak langsung jadi direktur tapi mulai dari sales, produksi, customer service, belajar “cara lapar” meskipun lahir kaya, dan beberapa bahkan disuruh kerja di perusahaan lain dulu untuk dapat pengalaman di luar comfort zone.
  3. Pemisahan kepemilikan dan manajemen dimana keluarga adalah pemilik saham sementara manajemen adalah profesional (bisa keluarga atau non-keluarga, yang penting kompeten), keluarga duduk di Board of Directors bukan operasional harian, dan yang paling capable yang memimpin bukan yang paling tua atau paling dekat dengan pendiri. 
  4. Struktur formal dan governance yang kuat termasuk Family Council sebagai forum keluarga bahas isu bisnis, Code of Conduct yaitu aturan main yang mengikat semua anggota keluarga, Constitution yang mengatur siapa boleh kerja di perusahaan dan syaratnya apa, serta mekanisme penyelesaian konflik yang jelas melalui mediasi atau arbitrasi.
  5. Budaya perusahaan lebih kuat dari ego keluarga dimana nilai perusahaan ditanamkan ke semua generasi, keluarga harus tunduk pada aturan perusahaan bukan sebaliknya, dan jika ada anggota keluarga yang tidak kompeten atau toxic mereka harus keluar. 

Pesan untuk Business Owner Indonesia

Jika Anda adalah pendiri bisnis keluarga yang sedang membangun sekarang, atau Anda adalah generasi kedua yang sedang menerima tongkat estafet, ingatlah bahwa keberhasilan lintas generasi bukan soal darah. Ini soal disiplin, kerendahan hati, dan kesiapan menghadapi dunia yang berubah lebih cepat dari ego manusia. 

Salah satu cara terbaik untuk memastikan bisnis keluarga Anda tidak menjadi bagian dari statistik kegagalan adalah : belajar dari pengalaman orang lain. Di Connectpedia, kami saling berbagi pengalaman, tantangan, dan solusi. Apa yang Anda dapatkan di Connectpedia termasuk sharing session dari business owner yang sudah successfully navigate suksesi generasi, mentoring dari senior business leader, networking dengan sesama pemilik bisnis keluarga untuk potential collaboration, workshop tentang succession planning, governance, dan conflict resolution, industrial visit untuk belajar best practice dari perusahaan lain, serta access ke resource dan tools untuk professionalize bisnis keluarga Anda. 

Jangan biarkan bisnis yang dibangun dengan keringat dan air mata generasi pertama runtuh di tangan generasi ketiga. Mari belajar bersama. Mari tumbuh bersama.

Connectpedia : Connecting Family Business

Related Posts

No results found.

Menu