Pada tahun 2015-2016, banyak pengamat bisnis memprediksi sebuah “kematian” yang tragis. Raksasa taksi konvensional, PT Blue Bird Tbk., dianggap sebagai dinosaurus yang sedang menunggu kepunahan. Gelombang transportasi online (Ojol) seperti Gojek, Grab, dan Uber datang menghantam dengan teknologi yang lebih canggih, harga yang jauh lebih murah berkat subsidi (bakar uang), dan kemudahan akses dalam satu genggaman.
Banyak perusahaan taksi lain gulung tikar dalam hitungan bulan. Namun, memasuki tahun 2026, burung biru ini bukan hanya masih terbang, tetapi terbang lebih tinggi dengan armada listrik (EV) dan integrasi digital yang masif.
Apa rahasianya? Mengapa bisnis keluarga ini tidak tumbang saat diserbu raksasa teknologi? Jawabannya bukan hanya pada aplikasi, melainkan pada pondasi profesionalisme keluarga yang sudah dibangun jauh sebelum disrupsi itu datang.
- Fondasi Meritokrasi: Melawan “Penyakit” Bisnis Keluarga
Salah satu alasan mengapa banyak bisnis keluarga tumbang saat krisis adalah karena manajemennya diisi oleh orang-orang yang tidak kompeten, namun memiliki “hak darah”. Ketika disrupsi Ojol datang, Blue Bird sudah memiliki pasukan pemimpin yang tangguh.
Keluarga Djokosoetono menerapkan sistem meritokrasi yang ketat. Generasi penerus tidak langsung duduk di kursi direksi. Mereka dididik untuk memahami operasional dari bawah, mulai dari urusan bengkel hingga pangkalan. Hal ini memastikan bahwa saat badai disrupsi datang, para pengambil keputusan adalah orang-orang yang paham betul “medan perang” mereka.
Bagi para owner bisnis jangan jadikan bisnis Anda tempat “penitipan” anggota keluarga. Kompetensi harus di atas segalanya. Tanpa tim yang kompeten, teknologi secanggih apa pun tidak akan bisa menyelamatkan bisnis Anda dari disrupsi.
- Transparansi IPO: Mengubah Ego Menjadi Akuntabilitas
Pada tahun 2014, setahun sebelum ledakan Ojol di Indonesia, Blue Bird mengambil langkah visioner dengan melantai di bursa saham (IPO). Langkah ini ternyata menjadi perisai yang sangat kuat.
Dengan menjadi perusahaan publik, Blue Bird dipaksa untuk transparan. Mereka memiliki dewan komisaris independen dan standar audit yang ketat. Saat krisis disrupsi melanda, perusahaan tidak bisa mengambil keputusan emosional atau sekadar mengikuti ego keluarga. Mereka harus bertindak berdasarkan data dan akuntabilitas publik.
IPO memberikan Blue Bird struktur modal yang kuat dan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) untuk melakukan transformasi besar-besaran tanpa terpecah belah karena konflik internal keluarga.
- Strategi “Jika Tak Bisa Melawan, Maka Bergabunglah”
Inilah momen yang paling krusial. Banyak pemimpin bisnis keluarga yang terjebak pada ego: “Kami adalah pemimpin pasar, kami tidak akan tunduk pada pendatang baru.”
Namun, di bawah kepemimpinan Noni Purnomo dan kemudian Sigit Djokosoetono, Blue Bird menunjukkan kerendahan hati yang strategis. Mereka menyadari bahwa mereka tidak bisa mengalahkan ekosistem transportasi digital sendirian dalam waktu singkat. Maka, mereka melakukan kolaborasi dengan salah satunya yaitu Go-Bluebird.
Mereka memisahkan antara “aset fisik” (mobil dan supir yang terstandarisasi) dengan “aset digital” (platform pemesanan). Ini adalah bukti bahwa kelincahan (agility) bisa lahir dari sebuah perusahaan yang sudah berusia puluhan tahun, asalkan para pemimpinnya mau membuka mata terhadap realitas pasar.
- Kepercayaan (Trust) yang Tak Bisa Dibeli dengan Algoritma
Mengapa masyarakat masih mau menggunakan Blue Bird meskipun ada banyak pilihan lain? Jawabannya adalah Standar Nyaman Indonesia (SNI).
Di era di mana keamanan data dan keamanan fisik menjadi isu sensitif, Blue Bird tetap memegang teguh nilai-nilai integritas yang ditanamkan sejak era Ibu Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono. Nilai-nilai seperti kejujuran supir (kasus barang tertinggal yang selalu kembali) dan kepastian tarif menjadi jangkar kepercayaan masyarakat.
Baru-baru ini, pada pertengahan 2025, viral kisah seorang supir Blue Bird yang rela menghentikan taksinya untuk membantu orang asing di jalan. Respon cepat dari sang CEO yang langsung memberikan apresiasi menunjukkan bahwa di tengah gempuran algoritma AI, kemanusiaan dan integritas tetap menjadi mata uang termahal dalam bisnis.
Baca juga: Kisah Perjuangan Blue Bird dari Satu Taksi Hingga Kuasai Jalanan Ibu Kota
- Inovasi Hijau: Menyalip di Tikungan Akhir
Memasuki tahun 2026, Blue Bird tidak lagi sekadar bertahan, mereka menyerang balik melalui jalur inovasi berkelanjutan. Dengan target ribuan armada taksi listrik (EV) di seluruh Indonesia dan operasional penuh di IKN (Ibu Kota Nusantara), Blue Bird memposisikan diri sebagai pemimpin dalam transportasi ramah lingkungan.
Mereka memanfaatkan momentum “Go Green” yang belum bisa sepenuhnya diikuti secara konsisten oleh mitra-mitra ojek online yang berbasis kepemilikan kendaraan pribadi. Blue Bird memiliki kontrol penuh atas armada mereka, memungkinkan mereka melakukan transisi energi dengan lebih cepat dan terorganisir.
Pelajaran untuk Anggota Connectpedia
Kisah Blue Bird adalah pengingat bagi kita semua di komunitas Connectpedia bahwa disrupsi bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dihadapi dengan persiapan yang matang. Berikut adalah langkah praktis untuk Anda:
- Audit Profesionalisme. Apakah posisi kunci di bisnis Anda diisi oleh orang yang tepat, atau hanya karena faktor keluarga?
- Terbuka pada Kolaborasi. Jangan biarkan ego menghambat pertumbuhan. Cari mitra yang bisa melengkapi kelemahan teknologi atau sistem Anda.
- Investasi pada Brand Integrity. Teknologi bisa ditiru, algoritma bisa dipelajari, tapi kepercayaan pelanggan yang dibangun selama puluhan tahun adalah benteng pertahanan yang tak tertembus.
Burung Biru yang Tak Pernah Berhenti Berinovasi (Blue Bird) membuktikan bahwa bisnis keluarga bisa menjadi sangat modern dan tangguh jika mau melepaskan cara-cara tradisional yang menghambat dan merangkul profesionalisme tanpa kehilangan “hati” atau nilai leluhurnya.
Saat ini, di bawah kepemimpinan Andre Djokosoetono, kampanye #TenangBersamaBluebird menjadi sangat relevan. Di dunia yang semakin cepat dan penuh ketidakpastian, masyarakat mencari satu hal yaitu kepastian. Dan itulah yang dijual oleh Blue Bird selama 50 tahun lebih dan nampaknya, mereka akan terus melakukannya hingga 50 tahun ke depan.
