Bisnis keluarga adalah bentuk usaha yang paling tangguh namun juga paling rapuh jika tidak dikelola dengan bijak. Banyak perusahaan keluarga di Indonesia tumbuh pesat di generasi pertama, lalu mulai goyah di generasi berikutnya. Salah satu penyebab utamanya adalah kesalahan dalam mengelola aset. Aset bisnis keluarga bukan sekadar uang dan properti. Ia mencakup kepercayaan, reputasi, hingga nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. Berikut adalah lima kesalahan umum yang sering terjadi, beserta cara menghindarinya.
- Mencampur Aset Pribadi dan Aset Bisnis. Masih banyak pemilik bisnis keluarga yang menggunakan rekening pribadi untuk transaksi perusahaan, atau sebaliknya. Sekilas tampak sederhana, tapi dampaknya bisa fatal. “Ketika uang pribadi dan uang perusahaan bercampur, sulit membedakan mana milik bisnis dan mana milik keluarga.” Dampaknya laporan keuangan jadi tidak akurat, sulit mengukur profit bisnis sesungguhnya dan potensi konflik jika anggota keluarga merasa tidak adil. Jadi seharusnya pisahkan rekening pribadi dan bisnis. Gunakan sistem akuntansi yang jelas dan transparan. Jika perlu, buat kesepakatan tertulis mengenai penggunaan dana perusahaan.
- Tidak Ada Struktur Kepemilikan yang Jelas. Banyak bisnis keluarga berjalan berdasarkan “kepercayaan” tanpa dokumen hukum yang kuat. Ketika salah satu anggota wafat atau terjadi konflik, kepemilikan aset jadi abu-abu. Hal itu menyebabkan sengketa warisan, perebutan kendali bisnis bahkan potensi kehilangan aset karena tidak memiliki legalitas. Untuk mengatasi hal tersebut buat struktur kepemilikan resmi, termasuk akta perusahaan dan perjanjian antar keluarga. Lengkapi dengan Family Constitution untuk mengatur hak suara, pembagian saham, dan tanggung jawab.
- Tidak Melakukan Diversifikasi Aset. Beberapa bisnis keluarga menaruh seluruh modal di satu jenis usaha — tanpa cadangan atau diversifikasi. Ini berisiko besar jika industri tiba-tiba terguncang. Bisnis yang tidak beradaptasi akan tertinggal. Diversifikasi bukan sekadar pilihan, tapi strategi bertahan. Tanpa diversifikasi maka akan terjadi ketergantungan tinggi pada satu sumber pendapatan, kerugian besar saat pasar berubah dan sulit bangkit dari krisis. Lakukan diversifikasi aset keluarga ke beberapa sektor. Misalnya: properti, teknologi, atau investasi sosial (impact investment). Libatkan generasi muda dalam riset peluang baru.
- Kurangnya Transparansi Antar Generasi. Generasi pendiri sering menutup informasi keuangan atau aset dengan alasan “belum waktunya anak tahu”. Padahal, keterbukaan justru penting untuk melatih kesiapan generasi penerus. Dampak yang akan terjadi diantaranya generasi berikutnya tidak siap memimpin, aset tidak terkelola optimal dan memperbesar potensi salah langkah karena kurang informasi. Hal yang harus dilakukan untuk menghindari hal tersebut dengan membangun budaya transparansi dan pendidikan finansial. Buat pertemuan keluarga rutin, laporan keuangan tahunan, dan sesi mentoring agar anak muda memahami kondisi bisnis sejak dini.
- Tidak Ada Perencanaan Warisan dan Pajak. Banyak bisnis keluarga belum memiliki rencana suksesi atau warisan yang jelas. Akibatnya, pembagian aset jadi rumit saat pendiri meninggal dunia. Padahal kekayaan tanpa perencanaan bisa menjadi sumber perpecahan, bukan keberlanjutan. Apa akibatnya? Pajak tinggi atau aset terblokir, perselisihan antar ahli waris hingga kehilangan aset karena sengketa hukum. Sebelum itu terjadi susun estate planning bersama penasihat hukum dan konsultan pajak. Siapkan dokumen warisan, surat wasiat, dan rencana suksesi sejak awal untuk menghindari konflik.
Mengelola aset bisnis keluarga bukan hanya soal angka dan kepemilikan. Lebih dari itu, ini tentang menjaga nilai dan kepercayaan antar generasi. Bisnis keluarga yang sukses tahu bahwa kekayaan sejati mereka bukan di rekening bank, melainkan pada soliditas keluarga dan kemampuan untuk tumbuh bersama.
