Tren Investasi Generasi Muda dalam Bisnis Keluarga. Generasi Baru, Cara Baru Melihat Investasi
Peran generasi muda dalam bisnis keluarga kini tak lagi sebatas penerus nama besar. Mereka mulai mengambil peran nyata dalam mengelola, mengembangkan, bahkan menginvestasikan modal pada lini usaha baru. Data dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan bahwa lebih dari 58% investor ritel di pasar modal saat ini berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun. Angka ini naik tajam dibanding lima tahun lalu — menandakan adanya mindset shift: generasi muda kini tidak sekadar bekerja dalam bisnis keluarga, tapi juga berpikir seperti investor. Bagi banyak keluarga pengusaha, tren ini adalah kabar baik sekaligus tantangan. Sebab, keberhasilan bisnis lintas generasi tidak hanya bergantung pada siapa yang memegang kendali, tapi juga bagaimana nilai dan strategi investasi diwariskan dengan bijak.
Mengapa Generasi Muda Tertarik pada Investasi Keluarga
Ada tiga alasan utama mengapa generasi muda mulai terlibat dalam keputusan investasi bisnis keluarga:
- Akses digital dan literasi keuangan meningkat.
Aplikasi fintech dan investasi kini membuat dunia keuangan terasa lebih dekat dan mudah diakses. Mereka belajar menganalisis risiko, membaca tren, dan mengelola portofolio sejak dini. - Kesadaran akan keberlanjutan bisnis.
Generasi muda menyadari pentingnya diversifikasi. Mereka tidak ingin hanya “menjaga warisan”, tapi juga memperbaruinya agar tetap relevan. - Dorongan untuk berinovasi.
Banyak generasi kedua atau ketiga yang ingin membawa perspektif baru—mulai dari teknologi, pemasaran digital, hingga sustainability—ke dalam bisnis keluarga yang mungkin sudah berjalan puluhan tahun.
Studi Kasus: Bluebird dan Generasi Ketiga yang Membawa Inovasi
Baca juga: Kisah Perjuangan Blue Bird dari Satu Taksi Hingga Kuasai Jalanan Ibu Kota
Siapa yang tidak kenal Bluebird Group—ikon transportasi yang sudah melayani masyarakat Indonesia selama lebih dari lima dekade?
Namun di balik stabilitas dan reputasi besar itu, ada cerita menarik tentang peran generasi ketiga keluarga Djokosoetono yang kini aktif membawa semangat inovasi.
Indra Priawan Djokosoetono, salah satu generasi penerus Bluebird, menjadi wajah baru transformasi perusahaan. Ia ikut mendorong digitalisasi layanan, mengembangkan aplikasi pemesanan modern, hingga memperkenalkan armada kendaraan listrik dalam upaya menuju transportasi berkelanjutan. Transformasi ini bukan sekadar langkah bisnis, melainkan bentuk investasi strategis lintas generasi—membuktikan bahwa keberhasilan sebuah bisnis keluarga ditentukan oleh kemampuannya beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan jati diri.
Studi Kasus: PT Slamet Langgeng dan Pentingnya Investasi Antar Generasi
Studi pada PT Slamet Langgeng, perusahaan keluarga di sektor manufaktur, menyoroti bahwa investasi antar generasi merupakan “mata rantai keberlanjutan” yang vital. Generasi penerus yang memahami arah investasi perusahaan cenderung lebih siap menghadapi perubahan, baik dari sisi pasar maupun teknologi. Dalam penelitian tersebut, diketahui bahwa generasi muda yang diberi ruang untuk berpartisipasi dalam keputusan investasi menunjukkan rasa kepemilikan yang lebih kuat terhadap perusahaan. Mereka tidak hanya bekerja untuk bisnis keluarga, tetapi berinvestasi secara emosional dan finansial untuk masa depannya.
Tantangan Generasi Muda dalam Investasi Bisnis Keluarga
Namun, keterlibatan generasi muda tidak selalu berjalan mulus. Beberapa tantangan umum yang sering muncul di bisnis keluarga antara lain:
- Kurangnya kepercayaan dari generasi pendiri. Banyak pendiri masih enggan melepas kontrol finansial dan keputusan strategis besar.
- Perbedaan visi dan minat. Generasi muda sering ingin mencoba sektor baru seperti teknologi atau sustainability, sementara generasi lama ingin mempertahankan bisnis inti.
- Keterbatasan literasi bisnis keluarga. Walaupun paham investasi pribadi, banyak anak muda belum memahami kompleksitas pengelolaan keuangan dan tata kelola dalam perusahaan keluarga.
Tantangan-tantangan ini hanya bisa dijembatani dengan komunikasi terbuka dan sistem tata kelola yang transparan.
Strategi Efektif Agar Investasi Generasi Muda Memberi Dampak Nyata
Agar keterlibatan generasi muda dalam investasi bisnis keluarga membawa hasil optimal, berikut strategi yang bisa diterapkan:
- Ciptakan struktur dan peran yang jelas. Keluarga bisnis perlu menetapkan mekanisme formal seperti family council atau investment committee untuk mengatur siapa yang berwenang mengambil keputusan investasi.
- Lakukan mentoring lintas generasi. Generasi pendiri berperan sebagai mentor, sementara generasi muda membawa perspektif baru. Kombinasi pengalaman dan inovasi akan memperkuat arah investasi.
- Dorong diversifikasi dan proyek inovatif. Berikan ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan inisiatif baru. Misalnya, investasi dalam startup, teknologi hijau, atau bisnis digital yang relevan dengan tren masa kini.
- Jadikan nilai keluarga sebagai fondasi investasi. Apapun bentuk inovasi yang dilakukan, nilai-nilai dasar keluarga seperti integritas, kerja keras, dan tanggung jawab sosial harus tetap menjadi landasan utama.
- Manfaatkan konsultan eksternal. Konsultan profesional dapat membantu keluarga bisnis merancang strategi investasi, tata kelola, hingga edukasi finansial bagi generasi penerus agar lebih objektif dan terarah.
Mengapa Tren Ini Penting untuk Masa Depan Bisnis Keluarga
Sebuah studi dari PwC Indonesia (2023) menyebutkan bahwa hanya sekitar 30% bisnis keluarga yang bertahan hingga generasi kedua, dan kurang dari 10% yang mencapai generasi ketiga. Salah satu penyebab utamanya adalah minimnya keterlibatan strategis generasi penerus sejak dini. Keterlibatan dalam investasi membuka jalan agar generasi muda memahami risiko, arah bisnis, dan visi jangka panjang keluarga. Lebih dari itu, investasi generasi muda juga mencerminkan keberlanjutan nilai keluarga — bahwa setiap keputusan bisnis bukan hanya tentang profit, tapi juga warisan dan kontribusi sosial.
Investasi Sebagai Jembatan Generasi
Tren investasi generasi muda dalam bisnis keluarga menunjukkan bahwa keberhasilan lintas generasi tidak cukup hanya diwariskan tapi harus dikelola dan dikembangkan bersama. Generasi muda membawa semangat inovasi, digitalisasi, dan keberlanjutan. Sementara generasi pendiri membawa kebijaksanaan, pengalaman, dan nilai yang sudah teruji. Keduanya perlu bersinergi untuk memastikan bisnis keluarga tidak hanya bertahan, tapi juga terus relevan di era yang berubah cepat. Investasi bukan lagi sekadar urusan modal, tetapi wujud tanggung jawab lintas generasi untuk menjaga warisan dan menyiapkan masa depan yang lebih besar bagi keluarga dan bangsa.
