Masalah bisnis keluarga sering kali muncul bukan hanya karena persaingan pasar, tetapi juga akibat dinamika internal seperti suksesi kepemimpinan, konflik antar generasi, hingga pencampuran kepentingan keluarga dan perusahaan. Bisnis keluarga merupakan pilar utama perekonomian dunia. Data dari Family Firm Institute menyebutkan, sekitar 70% PDB global berasal dari bisnis keluarga. Di Indonesia, kontribusinya bahkan lebih besar, karena banyak perusahaan besar lahir dari usaha keluarga—dari toko kelontong hingga konglomerasi multinasional.
Namun, di balik potensi besar itu, bisnis keluarga juga menyimpan tantangan serius. Penelitian menunjukkan, hanya 30% bisnis keluarga yang mampu bertahan hingga generasi kedua, dan kurang dari 10% yang sampai ke generasi ketiga. Angka ini menegaskan satu hal: keberhasilan bisnis keluarga bukan sekadar ditentukan oleh ide bisnis yang kuat, melainkan juga oleh kemampuan keluarga mengelola hubungan, kepemilikan, dan profesionalisme.
8 Masalah yang Sering Menghantui Bisnis Keluarga
- Suksesi Kepemimpinan. Pergantian generasi adalah momen paling kritis dalam bisnis keluarga. Banyak perusahaan runtuh karena tidak memiliki rencana suksesi yang jelas. Pertanyaan klasik muncul: siapa yang akan memimpin? Anak pertama? Anak paling kompeten? Atau profesional dari luar keluarga?
- Campur Aduk Kepentingan. Dalam banyak kasus, kepentingan keluarga dan kepentingan bisnis bercampur tanpa batas. Uang perusahaan dipakai untuk keperluan pribadi, atau sebaliknya, keuangan keluarga disuntikkan tanpa mekanisme yang jelas. Akibatnya, transparansi dan akuntabilitas sering dipertanyakan.
- Konflik Antar Generasi. Perbedaan cara pandang antar generasi sering menjadi batu sandungan. Generasi pendiri biasanya lebih konservatif dan enggan mengambil risiko, sementara generasi penerus menuntut inovasi dan digitalisasi. Ketegangan ini bisa memicu konflik yang melemahkan arah bisnis.
- Profesionalisme yang Rendah. Tidak sedikit bisnis keluarga yang lebih mengutamakan loyalitas ketimbang kompetensi. Posisi strategis sering diisi anggota keluarga meski tidak sesuai keahlian. Hal ini membuat perusahaan sulit bersaing dengan kompetitor yang dikelola secara profesional.
- Distribusi Saham yang Rumit. Masalah kepemilikan juga kerap menjadi sumber pertikaian. Saat perusahaan diwariskan, saham sering terpecah ke banyak ahli waris. Fragmentasi ini membuat pengambilan keputusan menjadi rumit, bahkan bisa memicu perselisihan hukum.
- Kurangnya Inovasi. Bisnis keluarga yang terlalu nyaman dengan “cara lama” sering tertinggal. Padahal, dunia usaha menuntut adaptasi cepat, terutama dengan hadirnya teknologi digital. Minimnya inovasi bisa membuat bisnis kehilangan relevansi di mata konsumen.
- Tata Kelola yang Lemah. Banyak perusahaan keluarga masih bergantung pada figur pendiri. Tanpa struktur organisasi yang jelas, bisnis menjadi rapuh ketika pendiri tidak lagi terlibat aktif.
- Transparansi Keuangan. Keuangan yang tidak dipisahkan dengan rapi membuat bisnis keluarga sulit berkembang. Investor dan lembaga keuangan biasanya enggan mendanai perusahaan yang tidak punya laporan keuangan jelas.
Studi Kasus 1: Mayora Group – Suksesi yang Relatif Mulus
Mayora Group, produsen makanan dan minuman yang lahir pada 1977, adalah contoh bagaimana bisnis keluarga bisa naik kelas dari industri rumahan menjadi pemain global. Produk seperti Kopiko, Roma, dan Energen kini dikenal di puluhan negara.
Namun, Mayora juga menghadapi tantangan klasik: regenerasi kepemimpinan. Keluarga Atmadja selaku pendiri berusaha memastikan transisi berjalan mulus dengan menempatkan generasi kedua di jajaran direksi. Selain itu, Mayora juga melibatkan profesional di posisi strategis untuk memperkuat tata kelola perusahaan.
Baca juga: Mayora Group & Kekuatan Storytelling Bisnis Keluarga Hingga Mendunia
Pendekatan kombinasi ini terbukti efektif. Bisnis tetap berakar pada nilai keluarga, tetapi dikelola dengan standar profesional. Pelajaran dari Mayora: suksesi perlu dirancang sejak awal, dengan menyeimbangkan peran keluarga dan profesional eksternal.
Studi Kasus 2: Gudang Garam – Konsistensi di Tengah Industri yang Sensitif
Berbeda dengan Mayora, Gudang Garam menghadapi dinamika yang lebih kompleks. Didirikan pada 1958 oleh Surya Wonowidjojo, perusahaan rokok asal Kediri ini tumbuh menjadi salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia.
Dalam perjalanannya, Gudang Garam menghadapi tantangan besar: industri tembakau yang sarat regulasi, persaingan ketat, serta transisi generasi. Saat pendiri wafat pada 1984, tongkat estafet dilanjutkan oleh anaknya, Susilo Wonowidjojo, yang hingga kini memimpin perusahaan.
Meskipun tetap dikuasai keluarga, Gudang Garam mampu menjaga konsistensi bisnis dengan strategi efisiensi, diversifikasi terbatas, dan fokus pada segmen pasar yang jelas. Namun, tantangan jangka panjang tetap ada: bagaimana perusahaan menghadapi tren global yang semakin ketat terhadap industri rokok?
Pelajaran dari Gudang Garam: loyalitas keluarga bisa menjadi kekuatan, tetapi tanpa inovasi dan adaptasi regulasi, keberlangsungan jangka panjang bisa terancam.
Menyikapi Tantangan: Solusi untuk Bisnis Keluarga
Dari dua studi kasus di atas, terlihat bahwa masalah dalam bisnis keluarga bisa dikelola bila ada strategi yang tepat. Beberapa solusi penting yang dapat diterapkan antara lain:
- Menyusun rencana suksesi sejak dini – Melibatkan generasi penerus dalam proses bisnis sejak awal.
- Memisahkan keuangan keluarga dan bisnis – Membuat laporan keuangan profesional.
- Membangun struktur organisasi yang jelas – Mengurangi ketergantungan pada satu figur pendiri.
- Mendorong inovasi dan digitalisasi – Membuka ruang bagi ide-ide segar dari generasi muda.
- Menghadirkan profesional eksternal – Untuk menjaga objektivitas dalam pengambilan keputusan.
- Menerapkan tata kelola yang transparan – Agar lebih mudah menjalin kemitraan dengan investor.
Bisnis keluarga memiliki potensi besar untuk bertahan lintas generasi, tetapi keberhasilan tidak datang begitu saja. Mayora menunjukkan bahwa kombinasi suksesi dan profesionalisasi bisa menjadi jalan keluar, sementara Gudang Garam memperlihatkan bahwa konsistensi nilai keluarga juga penting, meski tetap harus disertai inovasi.
Tantangan & masalah bisnis keluarga mungkin kompleks, tetapi dengan tata kelola yang baik, mereka bisa tetap menjadi pilar ekonomi sekaligus warisan berharga lintas generasi.

