fbpx

Vincent Suprana: Memimpin Sang “Jago” Menjelajahi Era Modern

Connect Blog

Di tengah gempuran modernitas dan serbuan produk-produk instan, beberapa warisan tradisional Indonesia tetap kokoh berdiri, salah satunya adalah Jamu Jago. Mengukir sejarah sejak 27 Januari 1918 di Semarang, PT Industri Djamu dan Pharmasi Tjap Djago bukan sekadar perusahaan jamu, melainkan saksi bisu perjalanan bangsa dalam menjaga khazanah kesehatan alami. Lebih dari seabad lamanya, Jamu Jago setia menemani masyarakat Indonesia dengan beragam ramuan tradisionalnya, mulai dari penawar masuk angin hingga pereda pegal linu, hadir dalam kemasan serbuk dan kapsul yang praktis. Namun, bagaimana perusahaan yang lahir jauh sebelum era digital ini mampu bertahan dan relevan hingga kini, melewati berbagai generasi kepemimpinan dan perubahan zaman? Mari kita telaah lebih dalam jejak langkah dan strategi pemasaran abadi Jamu Jago.

Kunci keberlangsungan Jamu Jago terletak pada kemampuannya untuk merawat warisan leluhur sambil beradaptasi dengan tuntutan zaman. Resep-resep jamu tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi menjadi fondasi utama produk mereka. Kepercayaan masyarakat terhadap khasiat jamu alami yang telah teruji waktu menjadi modal yang tak ternilai harganya. Namun, Jamu Jago tidak hanya terpaku pada masa lalu. Mereka secara bertahap melakukan modernisasi dalam proses produksi, pengemasan, dan tentu saja, strategi pemasaran.

Asal Usul Nama Jamu Jago

Nama “Jamu Jago” tidak muncul begitu saja. Menurut berbagai sumber, nama ini erat kaitannya dengan salah satu pendiri perusahaan, Tjia Kiat Nio, istri dari T.K. Suprana, sang perintis usaha jamu ini di Wonogiri pada tahun 1918. Tjia Kiat Nio dikenal memiliki kepribadian yang tangguh, gigih, dan cakap dalam berdagang. Karena ketangguhannya inilah, ia mendapatkan julukan “Mak Jago” atau “Ibu Jago”.

Nama “Djago” (ejaan lama dari “Jago”) kemudian dipilih sebagai merek dagang untuk produk jamu mereka sebagai bentuk penghormatan dan representasi dari sosok Tjia Kiat Nio yang dianggap sebagai motor penggerak awal usaha ini. Jadi, nama “Jamu Jago” secara harfiah merujuk pada “Jamu dari Mak Jago” atau “Jamu yang Hebat/Tangguh seperti Jago”.

Bertahan Melintasi Generasi

Kepemimpinan yang telah berganti beberapa generasi di Jamu Jago menunjukkan adanya kesinambungan dalam visi dan nilai-nilai perusahaan. Meskipun kini menjadi bagian dari Djago Group, akar tradisi dan komitmen terhadap kualitas tetap dipertahankan. Kemampuan untuk menyeimbangkan antara pelestarian warisan dan adaptasi terhadap perubahan zaman menjadi kunci utama mengapa Jamu Jago tetap eksis dan relevan setelah lebih dari satu abad.

Kini di pucuk kepemimpinan PT Industri Djamu dan Pharmasi Tjap Djago, atau yang lebih dikenal dengan Jamu Jago, berdiri Vincent Suprana. Sebagai representasi dari generasi keempat keluarga pendiri, Vincent memegang tampuk Direktur Utama, sebuah amanah untuk meneruskan warisan perusahaan jamu legendaris yang telah berdiri lebih dari satu abad.

Lahir dan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang kuat akan tradisi jamu, Vincent memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga relevansi merek Jamu Jago di tengah persaingan pasar yang semakin dinamis. Di bawah kepemimpinannya, Jamu Jago menunjukkan komitmen untuk berinovasi sambil tetap mempertahankan akar tradisionalnya.

Salah satu fokus utama Vincent adalah modernisasi dan adaptasi. Ia menyadari pentingnya menjangkau generasi yang lebih muda tanpa melupakan konsumen setia. Langkah-langkah seperti peluncuran produk-produk baru yang lebih relevan dengan gaya hidup modern, serta pemanfaatan platform digital untuk pemasaran dan distribusi, menjadi bagian dari visi kepemimpinannya.

Di berbagai kesempatan, Vincent Suprana menekankan pentingnya kualitas dan kepercayaan yang telah dibangun Jamu Jago selama puluhan tahun. Ia juga menyoroti komitmen perusahaan untuk terus menghasilkan produk jamu herbal berkualitas tinggi yang aman dan efektif bagi kesehatan masyarakat Indonesia.

Di bawah arahan Vincent Suprana, Jamu Jago merayakan tonggak sejarahnya yang ke-105 pada tahun 2023 dengan semangat pembaruan, termasuk penyegaran jajaran direksi. Hal ini menunjukkan kesiapan perusahaan untuk menghadapi tantangan masa depan dengan energi dan visi yang segar.

Sebagai pemimpin generasi keempat, Vincent Suprana memegang peran krusial dalam membawa Jamu Jago terus “berkokok” di industri jamu Indonesia, merajut warisan tradisi sambil beradaptasi dengan gelombang perubahan zaman. Lebih dari sekadar bisnis, Jamu Jago adalah bagian dari warisan kesehatan Indonesia yang patut untuk terus dilestarikan dan dibanggakan.

Related Posts

No results found.

Menu