Kentucky Fried Chicken (KFC), dengan sosok ikonik Kolonel Sanders, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap kuliner cepat saji di Indonesia selama lebih dari empat dekade. Mengawali perjalanannya pada tahun 1979, gerai pertama KFC di Jalan Melawai, Jakarta, dengan cepat merebut hati masyarakat Indonesia yang kala itu mulai terpapar budaya Barat dan mencari alternatif makanan praktis nan lezat. Di bawah bendera PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), KFC menikmati masa kejayaan yang gemilang, merajai pasar ayam goreng cepat saji dan menjadi pilihan favorit berbagai kalangan.
Masa keemasan KFC di Indonesia ditandai dengan ekspansi gerai yang masif ke berbagai penjuru negeri. Konsep restoran keluarga yang nyaman, menu ayam goreng dengan “11 bumbu rahasia” yang khas, serta berbagai inovasi produk seperti nasi dan menu lokal lainnya, berhasil mempertahankan daya tariknya di tengah persaingan yang mulai tumbuh. KFC menjadi simbol modernitas dan gaya hidup praktis, dengan gerai-gerainya selalu ramai dan menjadi tempat berkumpul favorit. Puncaknya, KFC berhasil menjadi merek fast food nomor satu di Indonesia selama bertahun-tahun.
Namun, badai mulai menerpa sang kolonel dalam beberapa tahun terakhir. Laporan keuangan PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) menunjukkan tren penurunan yang mengkhawatirkan. Kerugian bersih sebesar Rp557,08 miliar hingga kuartal III 2024 menjadi alarm bahaya bagi PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST). Kondisi finansial yang merugi signifikan ini memaksa perusahaan mengambil langkah pahit dengan menutup 47 gerai KFC yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia & pemutusan hubungan kerja (PHK) ribuan karyawan. Penutupan sejumlah outlet yang dulunya ramai ini menjadi indikasi betapa beratnya tantangan yang dihadapi sang penguasa ayam goreng. Langkah restrukturisasi ini menjadi upaya nyata FAST untuk bertahan di tengah persaingan sengit dan perubahan preferensi konsumen yang semakin dinamis.
Hingga April 2025, kondisi KFC di Indonesia masih penuh tantangan. Manajemen FAST terus berupaya mencari strategi untuk membalikkan keadaan, termasuk melakukan efisiensi operasional, penyesuaian menu, dan promosi yang lebih gencar. Namun, sentimen negatif dari isu boikot dan persaingan yang ketat masih menjadi hambatan besar. Penutupan gerai dan pengurangan karyawan menjadi indikasi bahwa perusahaan sedang melakukan restrukturisasi yang signifikan untuk menekan kerugian.
Meskipun warisan kejayaan KFC di Indonesia sangat kuat, masa depannya kini berada di persimpangan jalan. Mampukah sang kolonel bangkit kembali dan merebut hati konsumen Indonesia di tengah gempuran merek lokal dan perubahan preferensi pasar? Hanya waktu yang akan menjawab. Namun, yang pasti, era dominasi mutlak merek fast food internasional di Indonesia tampaknya telah berakhir, dan peta persaingan kini jauh lebih dinamis dan menantang.
