fbpx

WHY START UP APPEAR AND THAN FAILED

Artikel Bisnis

Bicara start up saat ini adalah ibarat kita kongkow diwarung kopi dimana A ~ Z isue tetang bisnis baru & peluang bisnis tak pernahhabisnya dibicarakan. Nyaris bisa dipastikan diatas 20% lulusan S1 generasi millenial ogah banget untuk bekerja atau ikut orang sebagai profesional, andai adapun karena kepepet jobless atau batu loncatan aja sementara dalam angan-angannya, sehingga mereka maunya punya bisnis sendiri, walaupun bisnisnya sekelas warung kopi pojok jalan yang sempit. Hal ini bukanlah sebuah kekurangan dari generasi milenial, namun itu pertanda sebuah kemajuan serta keberanian yang fenomenal dan perlu acungan jempol dibandingkan dengan orang-orang yang terlahir sebelumnya, pertanyaan yang muncul adalah : Apakah untuk sukses cukup hanya ditunjang keinginan, keberanian dan modal ikut-ikutan karena prilaku generasinya ? Inilah sebuah pertanyaan yang menjadi perdebatan dari generasi-genarasi yang masih eksis saat ini dari yang minor generasi silent, genersi Baby Boomer, generasi X hingga generasi Y.

Saat ini jumlah para pelaku Start Up rasionya tidak lebih dari 1 % (satu persent) yang terbilang sukses, kalo hanya sekedar tidak rugi mungkin cukup banyak, namun saja start up yang bisa survive pun belum menjadi mesin penyerap tenaga kerja sesuai dengan harapan pemerintah. Kenapa hal ini bisa terjadi ? jawabnya adalah karena Tidak cukupnya Pengalaman, Kurang Modal dan minimnya General Knowledge yang mendukung pada bisnis
tersebut, sehingga ketika bisnis start-up itu dijalankan bagaikan berjalan dengan cara meraba-raba digelapan, semoga tidak tersandung batu atau lobang dan berdoa semoga banyak yang berbaikhati mau membantunya.

Apa Akibat minimnya pengalaman ? menjadikan proses learning by doing menjadi solusinya, apakah to do sudah berada dijalan yang benar serta melangkah dengan benar ? bisa-bisa berjalan dengan benar dijalan yang salah, atau berjalan dengan salah dijalan yang benar ! inilah pertanyaan yang perlu dijawab ! Lalu bagaimana dengan kendala permodalan ? Ya tentunya tidak bisa lari sprint, terpaksa cara maraton pilihannya, yaitu perlahan, lama serta butuh nafas panjang agar mampu mencapai finish, Mampukan aku ? Apa akibat kurang kayanya General Knowledge ? Sudah pasti menjadi titik simpul lemah disalah satu fungsi atau mungkin saja banyak celah bolong yang menjadikan in-efisiensi bahkan peluang adanya penyalah-gunaan dari orang sekitar yang terlibat dalam
organisasinya. Dengan dasar itulah ada beberapa hal yang perlu menjadi bahan kajian agar para Start-Up ini tidak tejadi Muncul dan Gagal sekejap, namun dapat eksis dan menadi benchmark untuk para pelaku yang star-up yang hanya bermodalkan punya gagasan dan berani dong, adapun jurus yang isa dignakan adalah dengan memahami 7 C yaitu (
Creative – Collaboration – Core – Communication – Care – Critical – Comprehnsive). Ketujuh C tersebut , dapat di jelaskan menjadi : “Jurus Sukses Start-Up” adapun uraiannya dalah sbb :

  1. Creative to Applied, terkadang banyak orang-orang kreatif hanya sebatas konsep dan idea gila saja, sehingga ketika kreatif tidak dapat dieksekusi menjadi suatu tindakan maka ide kreatif tersebut hanya sebuah mimpi atau sebuah pikiran liar yang sedang nyasar masuk ke otak si-penggagas.
  2. Collaboration for Complete Skill, jadi ketika kolaborasi bukan hanya-semata-mata bermitra namun perlu bisa saling melengkapi yang bertujuan agar start-up ini dapat berjalan dengan kekuatan bersama yang saling berkotribusi satudengan yang lain.
  3. Core in Competencies, Hal ini sangat penting guna para start-up dapat fokus kepada keahliannya, bukan semata-mata karena ide yang muncul saja, namun perlu didukung oleh kemampuan pengetahuan, bidang keterampilan serta sikap yang menunjang.
  4. Communcation as Leader, Generasi saat ini secara umum kurang peka dalam hal bagaimana berkomunikasi dalam konteks skala kecil, skala menengah dan skala besar, berbicara di wilayah pertemanan, wilayah bisnis atau ketika berperan sebagai Pemimpin (leader) disebuah organisasi, karena kegagalan dalam
    mendapatkan empati lingkungan akan beresiko tidak mendapatkan dukungan secara optimal.

Selengkapnya ada di Connect Magazine #20:

CONNECT MAGAZINE 20

Ditulis oleh :

Mindiarto Djugorahardjo
Selling Therapist

Related Posts

No results found.

Menu