fbpx

Whole Mind, Kunci Manajerial SDM di Era Millenial

Artikel Bisnis

Berbicara mengenai Disruption Era , tentu tidak dapat terpisahkan oleh keberadaan generasi milenial (Gen Z). Generasi yang sangat terkoneksi dengan internet dan media sosial ini lagaknya mampu menggeser pola perilaku dan tatanan dalam dunia perusahaan. Diah Dharmayanti, Konsultan Business Number Consulting dalam Connect Masterclass yang bertajuk “Get Leader Through Whole Mind” mengungkapkan bahwa, generasi millennial memiliki mindset yang cenderung bebas dalam melakukan pekerjaan. “Kita tidak bisa memaksakan jadwal para Gen-Z. Sebab mereka lebih mencari sisi kebahagiaan dalam bekerja,” ungkapnya.

Pada workshop yang diadakan oleh Connect Leader Community di Hotel Java Paragon Surabaya (7/4/18), Diah juga menceritakan, di perusahaan maju sekalipun seperti Google, Facebook, bahkan telah menyediakan ruangan tersendiri misalnya lapangan basket indoor sebagai wadah aktualisasi diri bagi generasi millennial tanpa mengurangi tugas professional mereka.

Melihat fakta yang demikian, bagi sebagian perusahaan incumbent mungkin akan merasa kewalahan terhadap pola kerja Generasi Z dan menilainya sebagai ancaman besar. Namun beberapa perusahaan lainnya justru menganggap hal ini sebagai aset masa depan yang harus dipertahankan. “Bagaimanapun tidak bisa dipungkiri, Generasi Z inilah yang nantinya akan mewarisi perusahaan. Jika ingin usaha yang kita bangun tetap sustain atau berkelanjutan. Maka sebagai leader juga harus mau membenahi diri,” terang lulusan Stanford University tersebut.

Lebih lanjut istri dari dokter bedah ini pun menerangkan bahwa untuk mengatasi gap yang terjadi antara leader dengan employee, maka diperlukanlah bekal ilmu pengetahuan (knowledge) terkait kemampuan cara berpikir manusia. Salah satunya melalui Whole Mind. Whole Mind adalah sebuah tools asli dari brain technology US untuk mengetahui cara berpikir manusia secara genetika. Yang mana ketika dilakukan tes kembali maka hasilnya tidak akan berubah, hanya saja bisa ditambah potensi yang dimiliki.

Ada beberapa negara di dunia yang sudah menerapkan tes tersebut, di antaranya di Amerika Serikat dan Singapura. Sementara di Indonesia, baru BNC (Business Number Consulting) yang pertama kali mendapatkan license Whole Mind langsung dari US.

“Biasanya kami sering mendengarkan keluhan para perusahaan. Mereka sudah mengundang motivator sampai mengeluarkan uang mahal-mahal, namun setelah motivator itu pulang, kondisi kembali seperti semula seperti sebelum dibenahi,” tuturnya.

Menurut Diah, selama ini para HRD cenderung menilai itu sebatas karakter atau mindset. Sementara problem yang utama adalah kemampuan berpikir. Sebab dari kemampuan berpikir inilah yang akan membentuk mindset
seseorang, yang kemudian menjadi karakter lalu beralih menjadi sebuah perilaku.

Dengan mengaplikasikan Whole Mind, Leader-leader perusahaan akan sangat mudah melakukan pendekatan terhadap para karyawannya . Sedangkan para employee akan semakin terarah dalam bekerja. Sebab dalam penerapannya, mereka akan mendapatkan pengetahuan yang benar tentang pembentukan mindset masing-masing personal. Dengan demikian, tim manajemen akan lebih mudah mengontrol SDM perusahaannya berdasarkan hasil mapping karyawan.

Selanjutnya diharapkan setelah mengetahui hasil dari Whole Mind ini konflik internal perusahaan dapat diminimalisir dengan baik. “Dari tes Whole Mind ini kita akan tahu warna brain masing-masing individu. Merah, biru, hijau, atau kuning? Sehingga ke depannya kita tidak akan kaget lagi dengan pola kerja partner kita,” tukasnya. Secara tidak langsung Whole Mind juga menjadi alat untuk melatih self improvement dan organization development masing-masing individu. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana mereka melakukan pembenahan dan perbaikan guna mengembangkan potensi diri masing-masing. (citra)

Related Posts

Menu