fbpx

Welcome to The New Marketing Frontier

Artikel Bisnis

Sebagian besar dari kita pasti sudah melakukan yang namanya e-KTP, sebuah program wajib pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono yang bisa dikatakan sukses implementasinya. Untuk apa sebenarnya e-KTP? Bukankah sama saja dengan KTP biasa? Lalu sebentar lagi mata uang Rupiah kita angka nolnya juga bakal hilang 3 digit, alias program redenominasi Rupiah terus bergulir sejak 2015 hingga tahun 2018 besok.

Semua upaya yang dilakukan pemerintah RI sebenarnya untuk mempersiapkan kita agar lebih mudah dalam berbisnis ke depannya. ASEAN Economic Community akan dibuat seperti halnya Zona Euro, dimana kita tahu bahwa jika warga negara Inggris yang mau ke Italia atau ke negara lain di kawasan Eropa, sudah tidak perlu menggunakan paspor, mereka cukup menunjukkan ID card mereka ke petugas imigrasi (re: seperti halnya nanti fungsi program e-KTP Indonesia karena semua database kita bisa diakses secara online oleh 9 negara ASEAN lainnya).

Apabila di kawasan Eropa menggunakan mata uang EURO yang bisa digunakan secara bebas di seluruh negara-negara yang bergabung di dalamnya, maka begitupula nantinya di ASEAN. Di Inggris, selain juga masih menggunakan mata uang Poundsterling –nya, mereka juga harus mau menerima pembayaran dalam bentuk Euro. Tahun 2020 nanti rencananya ASEAN akan memiliki mata uang pemersatu yang sama dengan kawasan Eropa tersebut, sedemikian Rupiah harus diperkuat dulu oleh pemerintah agar punya posisi strategis di pasar ASEAN.

Cerita di atas adalah sebagian kecil saja rencana implementasi blueprint strategi jangka panjang MEA. Bahwa sesungguhnya MEA dibentuk untuk memantapkan 4 pilar ekonomi, di antaranya sebagai berikut:

  1. Single Market & Production Base
    MEA dibentuk untuk memperlebar wilayah produksi dan jangkauan pemasaran antar negara ASEAN, tanpa perlu ada embel-embel biaya tarif pajak ekspor-impor lagi. Hampir seluruh subsektor bisnis akan bebas tarif terkecuali usaha yang masih menyangkut hajat hidup orang banyak, seperti Migas, Mineral, dll. Ke depan, kondisinya akan semudah pengusaha Jakarta yang mau buka pabrik di Surabaya, begitupula jika pengusaha Thailand yang mau buka pabrik di Kamboja dan sebaliknya. Artinya, suatu negara ASEAN yang bisa menyediakan bahan baku dan tenaga kerja yang lebih kompetitif biayanya, maka di sanalah investasi akan masuk.
  2. Competitive Economic Region
    MEA dibentuk untuk menjadi wilayah regional yang lebih kompetitif dan siap bersaing dengan China dan India yang notabene punya jumlah penduduk 2x dari total 10 negara ASEAN digabung sekaligus (re: China 1,3 milyar dan India 1,2 milyar, sedangkan total 10 negara ASEAN hanya 650 juta penduduk). Apabila ditinjau lebih dalam, sesungguhnya ASEAN memiliki bermacam keanekaragaman sumber daya alam potensial yang complementary satu sama lain, sedemikian akan menjadi wilayah perekonomian yang sangat strategis apabila mau bersatu untuk menghadapi serangan produk-produk dari luar ASEAN.
  3. Equitable Economic Development
    Ketimpangan sosial yang terjadi selama ini di antara negara ASEAN ke depannya akan mulai dikurangi secara perlahan melalui MEA. Singapura masih menempati urutan pertama dalam GDP per capita. Berdasarkan data Bank Dunia tahun 2014, Singapura berhasil mencapai US$ 55.182, artinya setiap penduduknya memiliki penghasilan sekitar tujuh ratus jutaan rupiah setiap tahunnya. Bandingkan dengan negara ASEAN lain seperti Laos & Kamboja yang GDP per capita-nya hanya mencapai 5% dari apa yang diperoleh Singapura. MEA dibentuk agar setiap negara mampu bersaing di pasar global, sedemikian kesepuluh negara ASEAN diharapkan dapat memiliki keseimbangan perkembangan ekonomi, baik dari sisi produksi (biaya & ketersediaan tenaga kerja yang terjangkau) maupun konsumsi (daya beli yang relatif tinggi).
  4. Integration in Globalized Economy
    Masyarakat Ekonomi ASEAN sebenarnya juga terus dipersiapkan untuk mampu bersinergi dengan peta ekonomi global. Mengutip pidato Barrack Obama pada KTT di Turki pada November 2015 lalu yang mengatakan ingin menyatukan ekonomi seluruh negara dengan konsep “One World Order” , maka ASEAN sekarang harus lebih bergandeng-tangan satu sama lain, sebab ke depan tidak hanya ACFTA (ASEAN-China Free Trade Area) saja yang harus kita jalankan, melainkan juga banyak FTA (free trade area) lain yang harus kita hadapi. Artinya, di satu sisi, MEA adalah sebuah peluang besar, sekaligus juga ancaman bagi kita yang tidak siap.Jadi, di tahun 2016 ini, apabila kita berencana ingin berinvestasi untuk membuka pabrik/ cabang baru, jangan berpikir hanya ke kota mana atau provinsi apa sebaiknya di Indonesia yang harus kita jajaki, melainkan melalui MEA ini, kita sedikit mengganti pola pikir, yaitu ke negara ASEAN mana investasi sebaiknya dilakukan. Sebab jangan-jangan di negara ASEAN lain malah lebih murah biaya operasionalnya, tidak ribet secara perijinan, dan masyarakat setempat ternyata lebih tertarik dan punya daya beli untuk membeli produk kita. Ingat, pasar kita sekarang bukan lagi 255 juta orang, melainkan 650 juta penduduk. Kita bukan hanya menyandang predikat sebagai Indonesian Citizen, melainkan juga ASEAN Citizen sejak 31 Desember 2015 lalu. B ecause Indonesia is one of the ASEAN Member States (AMS), as well as the other 9 countries, so,Welcome to the New Marketing Frontier! (DSW)

Related Posts

Menu