fbpx

SMALL CHANCE, BIG IMPACT

Pada tahun 1947, inventor Edwin Land memiliki sebuah masalah kecil. Land dan anak gadisnya sedang menikmati liburan dan Land sibuk memotret aktifitas anaknya. Namun, gadis kecil itu tidak senang. Dia ingin melihat foto-foto yang diambil oleh Land saat itu juga, padahal ketika itu, sebuah foto harus melalui beberapa proses manual yang rumit agar dapat dicetak dan dilihat. Hal ini membuat Land berpikir. Bagaimana jika dia dapat menciptakan sebuah kamera yang dapat mengambil gambar lalu mencetaknya dalam hitungan menit?

Dari masalah kecil tersebut, tercipta kamera yang mengukir sejarah, Polaroid.

Saat ini, Facebook merupakan perusahaan media terbesar di dunia dengan pembaca rutin 1,79 miliar orang dari seluruh dunia per bulan (Data November 2016). Yang menarik, Facebook tidak menciptakan sendiri sebagian besar kontennya. Facebook baru mulai beroperasi pada Februari 2004, digagas dan dibuat secara swadaya oleh beberapa mahasiswa dengan modal yang sangat minim. Sebagai komparasi, salah satu perusahaan dari group media konvensional terbesar di Indonesia sudah mulai beroperasi pada November 1988.

Demikian pula dengan, Uber, perusahaan taksi terbesar di dunia yang tidak memiliki armada taksi sendiri. Hingga September 2016, Uber yang baru dirintis pada Maret 2009 telah melayani penumpang di 70 negara. Sebagai komparasi, perusahaan taksi terbesar di Indonesia sudah merintis usahanya sejak 1965.

Facebook diawali dengan gagasan untuk membuat sebuah tempat untuk sekitar 6.000 mahasiswa dan alumni Harvard agar mereka tetap dapat saling berbagi informasi dan menjalin hubungan. Facebook tidak digagas untuk digunakan oleh jutaan orang atau bahkan miliaran orang dari seluruh dunia. Uber juga berawal dari usaha memberi solusi untuk masalah taksi di San Fransisco. Ketika itu, banyak penumpang taksi di San Fransisco yang ditelantarkan begitu saja oleh para sopir taksi. Garrett Camp, salah satu pendiri Uber, ingin merasakan naik angkutan umum yang bagus, nyaman, dan mudah diperoleh. Dari keinginan kecil tersebut, timbul gagasan yang akhirnya mewujud menjadi Uber yang saat ini kita kenal.

Uber dimulai dari usaha untuk melakukan perubahan kecil di kota San Fransisco. Satu lagi perusahaan yang cukup menarik dan inovatif: Airbnb. Saat ini Airbnb merupakan perusahaan penyedia akomodasi terbesar di dunia dengan 2,3 juta kamar maupun tempat tinggal di 191 negara yang siap disewakan. Jumlah tersebut masih lebih banyak dibanding gabungan dari jumlah kamar yang tersedia dari tiga group hotel terbesar di dunia, Hilton, InterContinental, dan Marriott. Yang menarik, hingga saat ini, Airbnb tidak memiliki hotel sama sekali.  Airbnb diawali oleh masalah dua orang pemuda yang tidak sanggup membayar biaya sewa apartemen di San Fransisco karena harga yang cukup mahal. Mereka mendapat ide untuk menyewakan tiga kasur angin yang ditaruh di lantai dan menyediakan makan pagi bagi tamu mereka. Segera setelah sepakat, pada Oktober 2007 mereka membuat sebuah website sederhana untuk menawarkan penyewaan akomodasi tersebut. Hasilnya tiga orang berminat dan masing-masing bersedia membayar US$ 80. Bisnis mereka berlanjut dan berkembang hingga menjadi Airbnb yang kita kenal saat ini.

Airbnb juga diawali dari sebuah masalah kecil, sewa apartemen yang cukup mahal di San Fransisco. Ketika mendengar kata inovasi, banyak orang yang berpikir bahwa inovasi hanya dapat dilakukan oleh orang-orang kreatif yang visioner. Padahal seringkali, banyak inovasi sukses yang dimulai dari sebuah gagasan sederhana untuk menyelesaikan sebuah masalah kecil. Dalam banyak situasi, kita tidak dapat menyelesaikan semua masalah sekaligus. Jika kita perhatikan kegeniusan Polaroid, Edwin Land tidak berusaha menciptakan solusi untuk semua masalah fotografi yang ada saat itu, namun dia berfokus hanya pada bagaimana menghasilkan cetakan foto secara instan. Demikian pula dengan Facebook, Uber, Airbnb dan masih banyak perusahaan inovatif lainnya.

Hindari usaha untuk menciptakan solusi untuk semua masalah yang ada. Fokuslah pada satu masalah dan lakukan inovasi kecil yang dapat memberi solusi atas masalah tersebut. Bahkan dengan kesuksesan kelas dunia, Polaroid menyatakan bangkrut di tahun 2001. Ingat juga bagaimana Nokia yang beberapa tahun lalu mendominasi pasar telepon genggam dunia harus menyerah, menutup banyak pabriknya, dan akhirnya diakuisisi oleh Microsoft. Mereka melakukan kesalahan yang sama, terlambat melakukan inovasi. Bagaimana dengan perusahaan Anda?

Related Posts

No results found.

Menu