fbpx

Perang Dagang Amerika – China : Peluang Besar Indonesia?

Artikel Bisnis

Crisis is the combination of opportunity & danger, depends on how you look at it!

 

PENYEBAB AWAL

Pada awalnya, Perang Dagang ini dimulai saat Trump mengenakan bea masuk atas produk milik China untuk memperbaiki tingkat inflasi di negara Paman Sam tersebut. Tahap pertama, AS hanya mengenakan bea masuk terhadap barang China yang paling laris dijual di AS. Kebijakan AS mengenakan bea masuk ini langsung mendapat respons dari pihak China. Secara terang-terangan China juga berusaha mengenakan bea masuk terhadap beberapa komoditas yang diimpor dari AS. Inilah awal mula tensi perang dagang terjadi!

Usaha China membalas pengenaan bea masuk ini dinilai oleh Pemerintahan Trump sebagai upaya untuk membalas dendam! Perang dagang pun dimulai. Beberapa waktu kemudian, Trump mengambil kebijakan untuk mengenakan bea masuk terhadap sebagian besar produk yang diimpor dari China.

DAMPAK TERBURUK

Analis dari Moody’s Analytics, Steven G. Cocrane dan Katrina Ell menyatakan resesi ekonomi secara global berpotensi meningkat imbas perang dagang yang tak kunjung usai.

“Perang dagang telah bereskalasi melampaui prediksi. Peluang terjadinya resesi global dalam kurun waktu 12 hingga 18 bulan mendatang meningkat menjadi 50 persen,” ujar mereka, dilansir dari The Star, Kamis (22/08/2019).

Selain itu, Goldman Sachs Group juga menyatakan hal serupa. “Kami telah meningkatkan perkiraan kami dari perang dagang (adanya resesi global),” Sementara, Chief Economist Morgan Stanley, mengungkapkan jika risiko terjadinya resesi global meninggi dan akan semakin naik. Dalam tiga kuartal ke depan (berarti sekitar akhir 2020), kemungkinan dunia akan memasuki resesi global.

BAGAIMANA RESPON INDONESIA?

Jokowi mengatakan bahwa situasi perang dagang Amerika dan China sebenarnya menguntungkan bagi Indonesia. Di tengah perang tarif antara kedua negara, pengusaha dan pemerintah dapat mengambil peluang untuk tingkatkan ekspor produk yang mengalami hambatan masuk ke dua negara tersebut.

Kita bisa memanfaatkan momentum ini! Karena perang dagang ini berdampak pada makin sulitnya barang Amerika masuk China dan barang China juga sulit masuk Amerika. Nah barang-barang yang sulit masuk itulah bisa diisi oleh barang dari Indonesia Hal ini terlihat dari beberapa perusahaan manufaktur Negeri Tirai Bambu yang ingin memindahkan basis produksinya ke Indonesia demi menghindari tarif tinggi yang dikenakan AS.

Rencananya, pada tahun 2019, ada investor China yang bakal menanamkan modalnya sebesar Rp10 triliun di sektor industri tekstil. Investasi ini mengarah kepada pengembangan sektor menengah atau midstream, seperti bidang pemintalan, penenunan, pencelupan, dan pencetakan.

NEGARA ASEAN YANG DIUNTUNGKAN

Di Asean, hampir semua negara menyiapkan diri untuk berebut efek positif perang dagang tersebut. Namun, Vietnam-lah negara yang mendapatkan keuntungan lebih banyak ketimbang Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura dan lainnya. Bahkan, data Nomura yang dihimpun oleh Bank Indonesia (BI) memperlihatkan Indonesia kurang mendapatkan dampak positif dari perang dagang karena export similarity Indonesia dengan China paling rendah
dibandingkan dengan Thailand, Malaysia dan Vietnam karena perbedaan struktur ekspor.

Similaritas produk ekspor Vietnam dengan China yang begitu tinggi membuat AS akan mengalihkan impor dari China ke Vietnam. Di Vietnam, misalnya, ekspor produk telepon selular ke AS meningkat tajam dan mencapai 5,7% dari PDB Vietnam. Tak hanya ekspor, Vietnam juga mendapatkan keuntungan relokasi industri dari China. Pada periode Januari-Mei 2019, investasi China ke Vietnam US$1,6 miliar atau meroket 456% yoy dari US$280,9 juta pada periode yang sama tahun lalu. Bahkan, nilai tersebut lebih tinggi dari total investasi China ke Vietnam sepanjang 2018.

APA LANGKAH KITA SELANJUTNYA?

Saat ini Indonesia sudah cukup terlambat untuk mengantisipasi atau mengambil celah keuntungan dari perang dagang. Contohnya telat untuk mendapatkan fasilitas perdagangan khusus atau Generalized System of Preferences (GSP).  Wakil Presiden Jusuf Kalla bahkan mengatakan bahwa Vietnam sudah lebih cepat menerapkan GSP. Karenanya, Vietnam bisa mendapat manfaat ekonomi yang lebih baik dari Indonesia. Untuk itu, JK mengatakan, Indonesia perlu mempercepat langkah kerja sama dengan negara-negara lain di sektor ekonomi.

Membangun daya saing ekonomi selalu jadi masalah yang kompleks sedemikian tidak bisa ditangani satu atau dua kementerian saja. Jokowi minimal sudah membuat jaring penyelamat dengan mencoba fokus pada beberapa key area, seperti membangun infrastruktur namun dengan melibatkan banyak kementerian di dalamnya.

Selain membangun daya saing dan ketahanan ekonomi domestik, Indonesia juga tentu perlu berkomunikasi dengan negara lain, untuk menghindari keharusan Indonesia juga terlibat dalam perang dagang dengan negara tertentu. Indonesia juga terus mencari kemungkinan membuka pasar-pasar baru agar tidak hanya bergantung pada kerja sama perdagangan dengan pasar tradisional. Kembali lagi isunya sebenarnya adalah daya saing. Mau trade war sebesar apapun, kalau daya saing ekonomi kita kuat, kita akan baik-baik saja.

 

Ditulis oleh:

Dr. Sandy Wahyudi DSW

Pakar & Praktisi Marketing dan Inovasi

President Director SLC MARKETING, INC.

Founder of Connectpedia

 

Related Posts

No results found.

Menu