fbpx

Kesiapan Bisnis Memasuki Revolusi Industri 4.0

Artikel Bisnis

Pada revolusi industri generasi keempat, kita telah menemukan pola baru ketika disruptif teknologi (disruptive technology) hadir begitu cepat dan mengancam keberadaan perusahaan-perusahaan incumbent. Sejarah telah mencatat bahwa revolusi industri telah banyak menelan korban dengan matinya perusahaan-perusahaan raksasa. Lebih dari itu, pada era industri generasi keempat ini, ukuran besar perusahaan tidak menjadi jaminan, namun kelincahan perusahaan menjadi kunci keberhasilan meraih prestasi dengan cepat. Hal ini ditunjukkan oleh Uber yang mengancam pemainpemain besar pada industri transportasi di seluruh dunia atau Airbnb yang mengancam pemain-pemain utama di industri jasa pariwisata. Ini membuktikan bahwa yang cepat dapat memangsa yang lambat dan bukan yang besar memangsa yang kecil.

Oleh sebab itu, perusahaan harus peka dan melakukan instrospeksi diri sehingga mampu mendeteksi posisinya di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perusahaan incumbent perlu terus bergerak cepat dan lincah mengikuti arah perubahan lingkungan bisnis dalam menyongsong era Industrial Revolution 4.0. CEO Netflix, Reed Hasting pernah mengatakan bahwa jarang sekali ditemukan perusahaan mati karena bergerak terlalu cepat, namun sebaliknya yang seringkali ditemukan adalah perusahaan mati karena bergerak terlalu lambat. Kalau Pemerintah dan dunia bisnis tidak alert pada perubahan teknologi, politik dunia, dan ekonomi dunia maka dia akan tergeser.

Kita sedang menghadapi perubahan industri yang ke4, yakni informasi teknologi atau digital teknologi, nano teknologi, bioteknologi. Perubahan dari ketiga ini sangat dahsyat. Bisnis yang tidak mengikuti perubahan zaman, pasti lambat-laun akan masuk ke sunset industry. Sebagai contoh di industri keuangan, dalam hal ini alat pembayaran, yakni dimulai dari sistem barter, lalu menggunakan uang logam / uang kertas sebagai alat pembayaran tunai, dan kini ke pembayaran secara digital (e-payment). Hal ini merupakan penemuan terhebat manusia. Bahkan, prediksi di masa depan, mesin ATM akan menjadi barang rongsokan dan kantor cabang akan menjadi beban dari bank.

Kementerian Perindustrian telah meminta industri nasional mulai menggunakan teknologi digital seperti Big Data, Autonomous Robots, Cybersecurity, Cloud, dan Augmented Reality sebab dengan cara demikian, sistem Industry 4.0 ini akan memberikan keuntungan bagi industri, misalnya menaikkan efisiensi dan mengurangi biaya sekitar 12-15 persen. Sejumlah sektor industri nasional telah memasuki era Industry 4.0, di antaranya industri semen, petrokimia, otomotif, serta makanan dan minuman. Misalnya industri otomotif, dalam proses produksinya mereka sudah menggunakan sistem robotic dan infrastruktur internet of things.

Laporan ini menunjukkan bahwa akan terjadi perubahan besar selama lima tahun ke depan, sebanyak 7,1 juta lapangan pekerjaan bisa lenyap karena otomatisasi atau disintermediasi, dengan kerugian terbesar di karyawan kantor dan peran administratif. Kerugian ini diperkirakan akan sebagian diimbangi oleh penciptaan 2,1 juta lapangan kerja baru, terutama dalam kelompok pekerjaan yang lebih khusus, seperti teknik IT dan desain visual.

Sebagai refleksi singkat, apakah bisnis kita sendiri sudah siap memasuki era industri 4.0? Jika organisasi kita terlalu gemuk dengan banyak sekali staf administrasi yang kita miliki, maka sekarang ini saat yang tepat untuk mulai berbenah, sebelum terlambat dan kita akan menyesalinya. Mari kita berani bertanya pada diri sendiri “apakah peran seorang staf/suatu departemen di perusahaan saya ini bisa saya gantikan dengan teknologi ke depannya?” Memang kalau dihitung-hitung investasi infrastruktur IT di awal tidaklah murah dan perlu komitmen khusus, yaitu berani keluar dari zona nyaman. Hasilnya tentu baru bisa kita nikmati setelah sekian tahun berlalu. Siapkan diri kita untuk riding the 4th wave! Semoga para pembaca tetap antusias untuk terus belajar dan berinovasi. Keep STUPID – always keep learning ! [DSW]

Related Posts

Menu