fbpx

Family Business : Blessing or Curse?

Artikel Bisnis

Seperti kita tahu bahwa ada jargon yang sangat terkenal mengenai kemampuan bertahan perusahaan keluarga, yakni : generasi pertama membangun – generasi kedua menikmati – generasi ketiga menghancurkan. Jargon ini sering disebut dengan dale stale syndrome. Jargon ini sudah menjadi kutukan bisnis keluarga selama ribuan tahun. Kutukan yang seolah-olah tidak mampu dihindari oleh sebagian besar perusahaan keluaga di dunia. Bahkan hasil penelitian mendapatkan fakta bahwa hanya sekitar 5% sampai dengan 10% perusahaan keluarga sampai pada tingkat tahap sibling ownership, yaitu tahap di mana perusahaan keluarga dikelola oleh keturunan pertama dari pendiri perusahaan.

Benarkah tidak ada perusahaan keluarga yang sanggup hidup lebih lama dari pada sekedar hanya bertahan di tiga generasi? Jawabnya tidaklah selalu demikian. Tidak perlu berkecil hati, dunia masih menyisakan banyak perusahaan yang dapat hidup ratusan tahun bahkan ribuan tahun. Perusahaan-perusahaan yang bisa dijadikan contoh bagi kita semua, kita jadikan acuan bagaimana mereka dapat bertahan demikian lama dengan melewati belasan bahkan puluhan generasi.

Oleh sebab itu, perusahaan keluarga harus mampu merencanakan secara matang dan memastikan proses peralihan dari satu generasi ke generasi berikutnya berjalan dengan baik. Perusahaan keluarga juga harus memiliki perencanaan pendistribusian kekayaan dan kemakmuran terhadap seluruh anggota keluarga berjalan dengan adil, baik bagi anggota keluarga yang terlibat, maupun yang tidak terlibat di dalam pengelolaan perusahaan.

Kuatnya Rasa Persatuan dalam Keluarga

Keluarga yang bersatu padu jauh lebih mudah beradaptasi dengan perubahan dan biasanya menempatkan kepentingan bisnis dan keluarga di atas kepentingan diri sendiri. Biasanya keluarga membangun persatuan dengan mengutamakan komunikasi di antara mereka. Tanpa rencana suksesi yang cermat, meneruskan obor dari satu generasi ke generasi berikutnya terasa seperti menyerahkan kotak Pandora yang penuh dengan masalah yang kompleks. Perencanaan suksesi jauh lebih rumit dari sekedar mencari tahu siapa yang akan menjadi CEO berikutnya.

Mempersiapkan Generasi Berikutnya

Investasi dalam generasi berikutnya adalah suatu keharusan. Sayangnya, ‘investasi’ di generasi berikutnya sering disalah artikan sebagai ‘menemukan CEO berikutnya’. Ini perangkap umum untuk bisnis keluarga yang mengalami kebangkrutan sebelum jatuh ke generasi berikutnya. Dalam berbagai kasus, keturunan berikutnya yang bergabung dalam bisnis keluarga hanya untuk menyenangkan orang tua, akan menjadi penerus dengan performa buruk dan harga diri yang rendah. Di bawah kepemimpinan mereka, bisnis, lebih sering daripada tidak, pasti akan gagal. Mereka menjadi rentan terhadap apa yang disebut ‘penerus terkutuk’. Generasi ‘terkutuk’ ini terlalu meniru orang tua mereka.

Jadi, apakah meneruskan bisnis keluarga itu salah? Seperti 2 sisi mata uang, bisnis keluarga bisa menjadi berkat, sekaligus kutuk. Bagaimana agar proses suksesi kepemimpinan bisnis keluarga bisa berjalan mulus? Sudah banyak sekali contoh bisnis keluarga yang mengalami terobosan bersama Connectpedia. Begitu pula bisnis keluarga Anda juga bisa menjadi salah satunya!  #keepstupid #alwayskeeplearning

Related Posts

No results found.

Menu